21. Area Mantan

554 32 17
                                        

Aliyah mengacau kwetiaunya yang baru saja datang, sedangkan di hadapannya sudah ada semangkuk soto. Aliyah menunda makannya, sebab harus menunggu Arash yang masih dalam perjalanan menuju kantin.

Batang hidung Arash telah muncul. Aliyah tersenyum sejurus dengan pemuda itu mengempaskan tubuhnya di bangku depan, berhadapan.

“Hai. Gimana ulangannya?” sapa dan tanya Arash memulai obrolan.

“Ya, susah-susah gampang,” jawab Aliyah, “tapi temen kamu, tuh. Minta jawaban terus. Berisik lagi. Lain kali suruh dia belajar. Lumayan minta contekan dikit, ini hampir semuanya.”

Arash tertawa pelan mendengar omelan kesal gadis itu. “Dia emang susah. Otaknya udah terpengaruh, kotor semua.”

Ya, Arash tahu siapa orang itu. Hanya Fadhil yang sekelas dengan Aliyah.

Aliyah bersungut-sungut. Ia menyendokkan kwetiau goreng miliknya dengan rakus. Arash menyentuh bibirnya sendiri, menyuruh gadis itu untuk tersenyum.

Setelah menarik kedua sudut bibirnya, Aliyah bertanya, “Aku mau nanya, deh. Tapi kamu jangan marah, ya.”

“Nanya apa?”

“Kenapa kamu bisa putus sama mantan-mantan kamu?”

Arash menyeruput kuah sotonya. Setelah itu, ia menatap Aliyah dengan penuh selidik. “Mantan yang mana dulu, nih?”

“Yang pertama.”

“Kamel?” Arash menaikkan satu alisnya, lalu berdeham, “Kamel itu pinter. Pacaran zaman SMP sama anak pinter pasti putusnya karena alasan fokus ujian,” pungkas Arash, “kita putus, ya, kita mau UN. Mama aku takut nilai aku turun.” Arash menirukan gaya bicara Kamel saat mengingatnya.

Mulut Aliyah setengah terbuka mendengarnya. Alasan klasik dan konyol itu ternyata menjadi alasan Arash putus dengan pacar pertamanya. Aliyah tertawa renyah, kepalanya menggeleng. “Trus abis ujian nggak balikan?”

“Kayak lo nggak tau aja seribu makna di balik kata fokus ujian.”

“Iya, sih. Trus sama Melati, gimana bisa putus?”

“Dua pertanyaan, satu cium.”

Aliyah berdecak. Arash selalu saja punya cara untuk mengambil kesempatan. “Arash. Aku hilangin, nih, otaknya!”

“Serem, dong, nggak punya otak.” Arash pura-pura bergidik. “Melati itu jadiin kecantikannya sebagai kekurangan dan kelebihannya.”

Kalimat Arash itu, membuat Aliyah tertarik untuk mendengarkan lebih dalam. “Maksudnya?”

Arash mengedikkan bahu. “Yah, wajah bule banyak penggemar. Gue pacarnya, tapi mau-mau aja dideketin sama orang lain. Dan, gue ngerasa nggak cocok.”

Arash memang tidak tahu diri. Dia yang menyuruh Aliyah menggunakan aku-kamu, tetapi dia sendiri masih memakai gaya bahasa biasanya. Katanya, susah diubah.

Aliyah menganggut-anggut, lalu ia mengambil segelas air putih. “Oh, jadi begitu.”

“Giliran gue nanya hal yang sama,” ujar Arash.

With(out) Strawberry (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang