Mereka berciuman di waktu sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Mereka masih asik bercumbu dan bercinta selayaknya sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Ketika Madilyn sudah di atas ranjang dan membuka lebar-lebar kakinya hingga terlihat apa yang ada di antara kedua pahanya. Liam pun tak bisa menahan diri dan segera masuk untuk mencicipi liang kewanitaan bossnya. Meski Liam melakukan penetrasi dengan ritme yang pelan, itu tetap membuat Madilyn merasakan ketegangan akan sensasi batang Liam yang memasuki dirinya.
Di antara ketengangan itu di tambah dengan ciuman dari bibir Liam yang menggigit bagian-bagian atas yang cukup sensitif untuk Madilyn. Madilyn merasa lebih tegang yang membuatnya berpegangan erat pada pinggul Liam. Liam terus mendorong batangnya keluar dan masuk yang membuat Madilyn lebih basah.
Liam mengubah ritmenya, dia mengangkat Madilyn untuk duduk di pangkuannya. Madilyn hanya tersenyum melihat Liam, dia hanya mencium bibir Liam yang membuatnya merasakan ketegangan dengan mendesah lirih tepat di telinga Liam yang membuat Liam semakin bergerak dengan cepat yang membuat keduanya mencapai puncak. Setelah selesai, Liam sejenak menempatkan batangnya di dalam untuk mengeluarkan cairan kental putih di dalam kondomnya.
Madilyn menatap langit-langit, "Ahh-" dia mencium bibir Liam yang masih menancapkan batangnya di dalam. Keduanya merasakan keintiman yang luar biasa.
Madilyn merasa basah, dia mengambil tisu untuk mengelap kewanitaanya yang terasa begitu basah. Dia menuju kamar mandi dan melihat Liam melepaskan kondomnya penuh dengan cairan kental ke tempat sampah. Keduanya mandi bertelanjang di hadapan satu sama lain. Madilyn benar-benar dimabukkan dengan gerakan bibir Liam yang lihai dan gerakan serta ritme ketika melakukan seks yang berubah-ubah. Liam dimabukkan dengan suara Madilyn yang lembut ketika mendesah. Setiap kali Madilyn mengerang dan berbisik membuat Liam semakin bergerak dengan cepat.
"Tadi itu sangat luar biasa, bagaimana kamu melakukannya?" Madilyn tersenyum menyeringai menatap Liam.
"Kamu sudah melihat dan merasakan bagaimana aku melakukannya, seharusnya kamu tau." jawab Liam ketus.
Keduanya berciuman sebelum akhirnya menarik selimutnya kemudian mematikan lampu untuk tidur.
Keesokan paginya, Liam terbangun dan tangannya meraba ke sampingnya, namun dia tidak mendapati Madilyn sedang tidur di sampingnya ketika dia membuka matanya. Dia segera mengumpulkan tenaga untuk bangun dan mencari dimana Madilyn berada.
"Madilyn!!?" Liam berteriak mencari Madilyn,
"Gak sopan kamu panggil boss cuma dengan nama tanpa embel-embel nona muda gitu," ucap Madilyn sembari memperhatikan Liam yang sedang panik dari depan pintu dapur.
"Maaf nona, saya masih ngantuk." ucap Liam sambil melebarkan mulutnya dan memaksa dirinya untuk tersenyum walau pura-pura.
"Oh ya sarapan udah siap, namanya hotel sederhana pastilah lama kalau kirim makanan, seafood semua." ucap Madilyn yang mendekat ke meja makan dan segera duduk menikmatinya tanpa Liam.
Liam tidak di perintah untuk duduk di samping Madilyn karena itu dia hanya berdiri tepat di samping Madilyn dan siap untuk melakukan apa saja sesuai dengan perintah bossnya tidak termasuk ketika dirinya di pecat karena pemecatan Liam hanyalah wewenang Carl sebagai ayah Madilyn dan pimpinan tertinggi di keluarga Mclover.
"Kamu duduk sini, sarapan. Apa kamu gak laper setelah semalam olahraga berkeringat," Madilyn mengangkat garpunya dan memakan udang.
"Ini sudah duduk," ucap Liam melaporkan ketika dia sudah duduk di samping Madilyn dengan nyaman.
"Terkesan sedang memberi laporan, bedakan aku dengan papa. Kita gak sama karena kita punya beda prinsip." ucap Madilyn yang tiba-tiba membahas tentang ayahnya,
KAMU SEDANG MEMBACA
Personal Bodyguard
RomantizmMadilyn Mclover bisa mendapatkan segalanya, kehidupannya yang glamour, mewah dan penuh kasih sayang sejak lahir, dia satu-satunya anak perempuan Carl Mclover, seorang penguasaha sukses dengan latar belakang kriminal yang membahayakan keluarganya. D...
