Chapter 18: Jealousy

164 4 0
                                        

Liam membawa Madilyn ke kamarnya dan menidurkan gadis yang sudah di mabuk cinta oleh dirinya namun, dia tak kunjung menyatakan cintanya. Hana yang khawatir dengan Madilyn pun segera mengikutinya ke kamar untuk melihat apakah Madilyn terluka atau tidak. Dia sempat bertatapan dengan Liam begitu dekat yang membuat hatinya berdebar dengan kencang entah untuk alasan apa.

"Makasih yah, kamu kok bisa ada disini? Ini kan jauh?" Liam hanya terkekeh geli mendengarkan pertanyaan Hana, 

"Tentu aku akan mengikuti sang tuan putri. Itu adalah tugasku, kamu siapa? I mean nama kamu?" Liam mengajak Hana untuk bersalaman, 

"Hana, kamu Liam ya?" Liam tersenyum menatap Hana yang terlihat ceria dan ramah tidak seperti bossnya.

"Iya." jawab Hana singkat, 

Hana juga mengajak Liam untuk duduk di balkon kamar Madilyn. Hana yang baik hati juga memesan coklat panas untuk Liam serta makanan ala Villanya dan dia juga menyambut Liam dengan baik tidak seperti Madilyn yang selalu ingin menjauh dari Liam. 

Namun, Liam hanya memperlakukan Hana tak lebih dari seorang sahabat Madilyn. Dia sudah jujur dalam hatinya dan dia akan menyatakan cintanya di hadapan Madilyn meskipun dia ragu dan dia takut akan penolakan. Jika ada satu orang yang pernah menolak cinta Liam adalah gadis kaya yang kemudian mati dan Liam sangat bersedih sampai dia bertemu dengan Madilyn. 

Namun, dia tidak ingin menjadi pria itu lagi. Dia tak ingin menjadi pria pengecut yang selalu mengatakan cintanya setelah sang gadis memilih pria lain. Dia berkehendak untuk menyatakan cintanya meskipun dia merasa takut akan penolakan. 

"Kenapa kamu tidak menyatakan cinta kamu ke Madilyn?" celetuk Hana yang kemudian merasa bersalah karena keceplosan soal urusan asmara sahabatnya. 

Liam tak mau menanggapi orang asing secara serius, dia hanya tersenyum tipis, "Mmm katanya dia tidak memberikan kesempatan kedua." Hana terkejut memelototi Liam yang mengetahui hal itu.

"Kamu nguping ya?" Hana mengarahkan telunjuknya ke arah Liam, mereka berdua kemudian tertawa santai di tengah dinginnya malam dan sepoi-sepoi angin yang membuat tubuh mereka kedinginan. Liam yang melihat Hana mengelus lengannya karena kedinginan kemudia memberikan jaketnya yang berwarna hitam untuk Hana. Hana tidak seperti Madilyn yang menolak pria tampan seperti Liam. 

"Sejak kapan kamu berteman dengan Madilyn?" Liam mengajukan pertanyaan agar Hana tidak melulu membahas tentang Madilyn dan dirinya karena dia tak ingin jika urusan asmaranya menjadi pembahasan orang lain. Apapun yang terjadi diantara dia dan Madilyn adalah urusannya. 

"Sejak kecil, kami dulu tetangga ketika masih tinggal di Villa yang lama. Akhirnya Madilyn dan keluarganya pindah ke Villa yang lebih besar sejak Calvin lahir. Kami sekolah di tempat yang sama sampai di universitas yang sama. Kami hanya berpisah ketika kami belajar di Strata dua. Kalau kamu sendiri? Kamu terlihat sendiri." ucap Hana yang sebenarnya tak mau menyinggung perasaan Liam namun, dia ingin mengetahui asal-usul Liam siapa tau bisa menjadi informasi penting untuk keputusan yang akan diambil Madilyn. 

"Tentu ada teman, kamu, Karlina dan pengawal-pengawal yang lain serta anggota-anggota intel. Jika tentang keluarga itu terdengar agak privasi akan tetapi, orang tuaku sudah meninggal sejak lama dan aku hanya hidup sendiri mengabadikan hidupku untuk organisasi dan pekerjaan." jelas Liam yang berarti dia sama sekali tak memiliki keluarga.

"So sorry to hear that, tapi kamu masih ingin kan someday menikah kemudian punya anak?" Hana menatap mata Liam dengan serius. Liam hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu, 

"Bukan tak mau, hanya belum menemukan wanita yang tepat," jawab Liam, 

"Madilyn kan?" 

Liam menarik napasnya dalam-dalam, bukan dia tak mau mengejar Madilyn lagi. Tetapi, setelah mendengar kebenaran bahwa Madilyn benar-benar tidak membukakan kesempatan kedua untuk dirinya, tentu dia kehilangan nyalinya untuk menyatakan cintanya lagi.

Personal BodyguardTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang