"Hi, dimana ruangan Pak Carl Mclover, dia mengundang saya ke rumahnya." ucap pria itu terdengar lembut dan sopan di telinga Madilyn.
"Di lantai 3." jawab Madilyn ketus, "Ada berapa ruangan di lantai 3? saya gak tau yang mana." pria itu tersenyum tipis. Dia menatap Madilyn dengan tatapan yang berbeda dan tatapan seperti itu tidak pernah dia dapatkan sebelumnya, matanya berputar menatapnya seolah Madilyn adalah gadis yang dia cari.
"Itu minta dianter, Mad. Kan dia gak tau. Itu cepet dianterin tamu Papamu, gak ada salahnya wong ganteng gitu kok." Hana menepuk pundak Madilyn dan berbisik di telinganya. Memang benar ucapan Hana, tidak salah mengantarkan seorang pria berbadan tinggi dan berotot yang dia tunjukkan karena dia memakai kaos lengan pendek, matanya berwarna coklat daun kering dan terlihat indah ketika bertatapan dengan mata biru milik Madilyn.
Pria itu sepertinya tidak datang untuk pekerjaan, melihat dari outfitnya yang terlihat seperti orang mau liburan dibanding orang datang dan mau membahas tentang pekerjaan. Madilyn tidak punya pilihan lain selain mengantarkan pria itu ke ruangan ayahnya karena pria itu terus berdiri disana. Madilyn tidak bertatapan dengan pria itu sama sekali, di tengah-tengah patah hatinya dia tidak ingin diganggu oleh siapa pun dan pria itu hanya berdiri tegak menatap ke depan.
Madilyn berjalan menuju ruangan ayahnya diikuti oleh pria itu di belakangnya. Madilyn mengetuk pintu ruangan Carl dan Carl terdengar mengatakan 'masuk' yang berarti mereka berdua diizinkan untuk masuk. Carl yang sedang membaca laporan ditemani oleh asistennya disana pun terkejut melihat kedatangan Steven yang lebih awal dari yang dia tebak.
"Steven, om pikir kamu akan datang nanti, katanya lagi sibuk menangani bisnis di Swedia? sudah pulang?" Carl tersenyum menyambut kedatangan Steven. "Sudah balik Om, tadi aku habis di bandara langsung kemari karena katanya Om mau mengenalkan aku kepada anak perempuan Om." jelas pria itu yang membuat Madilyn yang masih berdiri disana mengernyitkan dahinya terkejut.
"Itu sudah ada di depan kamu." ucap Carl mengarahkan tatapannya ke arah putrinya yang masih mematung karena begitu cepat cintanya pergi seolah dia harus mengobati lukanya dengan obat yang dia sendiri tak ingin coba saat ini.
"Hi, Madilyn. Nice to meet you. Aku pikir itu bukan kamu tadi karena aku belum pernah melihat kamu sebelumnya dan aku agak lupa karena kita sudah lama tidak bertemu." Steven mendekat dan mencium tangan Madilyn yang terasa dingin.
"Dan kalau sudah bertemu tentu tidak tiba-tiba langsung meminta untuk menikah, kan?" celetuk Madilyn menanggapi sapaan Steven yang hangat. Dia bukannya tak suka dengan Steven hanya saja mengingat keadaanya yang sekarang masih hamil pula dan jika rahasia kehamilan itu terbongkar, belum tentu Steven mau menerima dirinya.
"Tentu saja tidak secepat itu. Kalau kamu berpikir ini perjodohan, memang iya. Namun, kita memiliki waktu untuk saling mengenal kan sebelum mengambil keputusan yang lebih jauh." balas Steven.
"Steven, aku tidak mau membuang-buang waktu untuk jatuh cinta atau mengenal seseorang yang aku sendiri tidak mau. Jika aku membutuhkan obat untuk hati, memang benar hanya saja aku tidak mau. Kamu sudah tau jawabannya dan aku yakin kamu tidak ingin melakukan kesalahan dengan mencintai seseorang yang tidak mencintai kamu, kan?" Madilyn mengangkat alisnya, Steven menggandeng tangannya dan mengajaknya keluar atas izin Carl.
"Suatu hari nanti kamu juga akan ada di posisi yang sama dimana kamu ingin mengenal seseorang dan jatuh cinta lagi. Karena kamu pasti ingin menikah, punya anak kan suatu hari nanti? karena untuk melanjutkan...darah..daging kamu." ucap Steven terbata-bata.
Hati Madilyn semakin berdegup kencang ketika Steven menyebutkan tentang memiliki anak. Faktanya kini dia sedang hamil anak Liam dan dia tak mungkin membeberkan semua itu di depan umum karena tak ingin merusak reputasinya dan reputasi orangtuanya. Madilyn bukan tak mau mengenal Steven lebih dekat, hanya saja dia sekarang ini dia tak ingin menyakiti hati pria tak bersalah itu. Madilyn butuh pelukan seorang pria setelah hatinya yang begitu hancur akan tetapi, dia sudah terdampar di pulau tak berpenghuni, hatinya kosong dan dia tak ingin menyeret orang lain ke dalamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Personal Bodyguard
عاطفيةMadilyn Mclover bisa mendapatkan segalanya, kehidupannya yang glamour, mewah dan penuh kasih sayang sejak lahir, dia satu-satunya anak perempuan Carl Mclover, seorang penguasaha sukses dengan latar belakang kriminal yang membahayakan keluarganya. D...
