Setelah kembali ke rumah keluarga Carl. Liam mengecek ruangan pribadi Madilyn dan dia melihat Madilyn masih terjaga di depan laptopnya, sepertinya dia sibuk dengan pekerjaan dan persiapan project yang ayahnya percayakan kepadanya. Liam masuk dan menghampiri Madilyn yang terlihat belum mengantuk.
"Kenapa gak tidur?" Liam duduk di depan Madilyn, "Aku nungguin kamu jadi, aku sambil ngerjain tugas buat besok, kamu darimana aja? wajah kamu terlihat sendu?" Madilyn beranjak dan mendekat kepada Liam yang wajahnya menunjukkan dia sedang agak sedih hari ini.
"Gak, ini tadi di jalan sempet kena hewan kecil-kecil jadi, masuk ke mata sampai berair." Jelas Liam yang membuat Madilyn sedikit khawatir, "Eh kasih obat tetes mata biar gak semakin memerah." Madilyn ingin beranjak dan mengambilkan obat tetes mata akan tetapi, Liam meraih tangannya yang membuatnya tidak jadi pergi, "Gak usah, serius aku baik-baik aja. Nanti kalau udah tidur juga baikan kok." Lantas Madilyn pun kembali duduk mendengar pengakuan Liam yang mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Aku dah ngantuk, ku mau tidur dulu ya. Besok ada rapat soalnya. Oh ya, kalau mau dinner sepertinya besok bisa." Madilyn mendekat dan mencium bibir Liam sebagai pemanis mimpi dalam tidurnya.
"Good night, sayang." ucap Liam tepat di telinga Madilyn.
Liam masih duduk di tempat itu dan dia memikirkan tentang Madilyn yang mungkin saja hidupnya masih dalam bahaya karena bagaimana pun juga Tommy Sharvia masih memiliki orang untuk menjalankan misi balas dendamnya setelah dirinya tidak berguna lagi untuk Tommy. Namun, Liam berharap mereka tidak melakukan tindakan bodoh yang akan mencoreng nama baiknya.
Dia tak sengaja tertidur di ruangan kerja Madilyn. Dia terbangun oleh ponselnya yang berdering karena Madilyn sudah telat untuk bekerja. Liam seharusnya mengantarnya pagi ini, akan tetapi, Madilyn menunggu agak lama yang membuat dirinya hampir telat pagi ini.
Madilyn berada di ruang rapat seperti biasanya, sedangkan, Liam berada di luar ruangan rapat menunggu dan menjaga agar hidup Madilyn tetap aman. Carl sepertinya tidak bergabung dengan rapat, dia justru berada di luar ruangan dan menyapa Liam dengan gayanya.
"Kamu ikut ke ruangan saya." perintah Carl yang berbisik di telinganya. Liam pun mengangguk dan menuju ruangan Carl.
Carl membiarkan Liam masuk terlebih dahulu sedangkan, dia masuk kemudian mengunci pintu ruangan kantornya yang sangat jarang dia lakukan. Carl sepertinya membicarakan hal penting dengan Liam. Tidak ada yang benar-benar tau apa yang mereka bicarakan apalagi ketika Carl memasukkan Liam ke ruangan sebelah yang sangat tertutup dan Liam sendiri tidak pernah tau jika Carl memiliki ruangan tersembunyi.
Mereka berada di dalam sana selama berjam-jam, entah apa yang mereka bicarakan. Namun, Liam keluar dengan wajah yang masih baik-baik saja, sepertinya Carl membuat dirinya berpikir lebih keras atau memarahinya karena dia tidak melindungi Madilyn dengan baik. Liam keluar dari ruangan Carl yang masih memasang mimik wajah senyumnya atas kepergian Liam dari ruangannya.
"Kamu kemana aja tadi? Aku cari-cari dan telpon kamu tapi, kamu gak angkat?" Madilyn pun segera bertanya ketika melihat Liam akan masuk ke ruangannya.
"Aku tadi ke toilet karena perut aku sakit, karena bolak balik jadi aku disana aja biar gak jauh larinya." Madilyn melotot terkejut dan seketika wajahnya berubah menjadi khawatir, "Ya udah ke dokter sekarang ya." terdengar agak lebay untuk Liam karena dia tak pernah sekalipun pergi ke dokter meskipun sedang diare. Liam biasanya membeli obat apotek dan dia akan merasa sembuh. Liam tentu menolak permintaan Madilyn karena dia sebenarnya tidak sakit.
"Ya udah kalau kamu gak mau, aku mau lanjut kerja. Oh ya, kalau kamu mau pulang dan istirahat, pulang aja, ya." Liam menganggukan kepalanya dan dia pamit pulang karena dia butuh waktu sendiri untuk berpikir tentang tawaran Carl yang harus dia putuskan sampai minggu depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Personal Bodyguard
RomansaMadilyn Mclover bisa mendapatkan segalanya, kehidupannya yang glamour, mewah dan penuh kasih sayang sejak lahir, dia satu-satunya anak perempuan Carl Mclover, seorang penguasaha sukses dengan latar belakang kriminal yang membahayakan keluarganya. D...
