"Tahukah dirimu betapa diriku merindukan hadirmu ada disini? Kamu pikir aku sanggup hidup tanpa kamu?" Liam menggenggam erat tangan Madilyn dan dia mulai membuka matanya pelan-pelan. Madilyn segera memanggil dokter lewat bel yang ada di sebelah Liam.
"Heyy, sayangku, aku sudah sangat merindukan kamu. Bagaimana perasaan kamu sekarang?" Madilyn mencium tangan Liam dan Liam hanya mengangguk yang menandakan bahwa dia baik-baik saja sekarang.
Tak selang beberapa waktu yang lama, dokter Arnold pun datang untuk memeriksa Liam yang baru saja sadar dari komanya selama 3 hari. Liam yang baru bangun pun terkejut tatkala dia mendengar bahwa dia tertidur selama 3 hari. Dia merasa sedih karena pernikahannya dengan Madilyn dibatalkan, dia juga merasa bersalah karena tidak bisa menjadi pasangan yang baik.
"Maaf ya, aku belum bisa menjadi pasangan yang baik untuk kamu." Liam menatap Madilyn dengan serius, "Kamu sudah baik, kamu sudah melindungi aku dan kalau tak ada kamu waktu itu apa yang akan terjadi?" Madilyn menangis di hadapan dokter Arnold dan perawatnya yang melepas seluruh peralatan yang tadinya menempel di tubuh Liam.
"Tangan kamu masih sakit ya?" Madilyn melihat ke tangannya yang masih dibalut perban, "Gak, ini gak sakit kok. Cuma nyeri aja sama cepet capek. Kamu istirahat dulu deh supaya keadaan kamu cepet membaik." perintah Madilyn kepada Liam yang sama kerasnya seperti dirinya.
Liam juga sama halnya dengan Madilyn yang sangat tidak betah dengan aroma rumah sakit yang aneh. Karena itu, Liam meminta agar dokter segera mengizinkan dia kembali ke rumah dan beraktivitas seperti biasa meskipun itu sangat dilarang akan tetapi, dia masih ingin tetap keluar dan bebas.
"Kenapa gak pulang malam ini aja, dok. Aku kan sudah baikan, please deh." Pinta Liam memasang wajah memelas di hadapan dokter Arnold.
"Sayang, kamu istirahat dulu lah. Kamu kan baru aja sadar, babe. Jangan pergi kemana-mana!!!" Madilyn memelototi Liam dengan wajah galak.
"Sayang, santai aja dong matanya. Iya, aku disini sampai dokter mengizinkan aku pulang, Ok. Tapi, kamu cium aku dulu." Liam tersenyum menyeringai yang membuat pipi Madilyn memerah karena malu. Tak ingin menganggu dua calon suami istri, dokter Arnold dan kedua asistennya pun meninggalkan ruangan Liam.
Madilyn mencium bibir Liam yang terasa hangat, dia melumatnya dan menjelajah ke dalam perlahan. "Kamu sudah pasti merindukan aku, kan?" Madilyn duduk dan menggenggam tangan Liam. "Iya, sangattt. Kamu sih lama banget tidurnya. Aku sampai kosong setiap kali menatap di ruangan ini karena aku begitu hampa tanpa kehadiran kamu. Aku tak pernah ingin tertidur sendirian tanpa adanya kamu akan tetapi, malam itu membuat aku begitu sendirian meskipun kamu ada di samping aku." Madilyn mencium tangan Liam.
"Aku masih disini dan aku akan selalu ada untuk kamu. Jadi, kamu reschedule pernikahan sampai kapan?"
"Aku udah reschedule sampai 2 minggu ke depan dan kamu gak perlu khawatir tentang itu, kamu istirahat aja dulu dan setelah kamu pulih nanti kita atur lagi acara pernikahan dan resepsi kita." Jawab Madilyn.
Liam sebetulnya penasaran siapa yang telah melukai mereka berdua di villa kemaren akan tetapi, dia enggan bertanya karena Madilyn terlihat kelelahan karena menunggu dirinya selama 3 hari bahkan Madilyn tidak bekerja karena dia selalu bersama di samping Liam. Dia bersedih setiap malam menanti Liam membuka matanya. Liam tak ingin menganggu Madilyn dengan pertanyaan itu.
Dia berpikir mungkin saja Carl atau ayahnya lah yang melakukan ini. Meskipun Tommy sudah mengatakan dengan jelas dan memastikan Liam bahwa restu dan dukungannya hanya dia lakukan untuk Liam, namun, bisa saja dia hanya mengatakan itu untuk formalitas biasa. Dan Carl sejak awal sudah merencanakan Madilyn dan mantannya, Adams Scott untuk menikah akan tetapi, gagal karena Madilyn berhasil menguak rahasia Carl yang memiliki anak bersama Citra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Personal Bodyguard
RomansMadilyn Mclover bisa mendapatkan segalanya, kehidupannya yang glamour, mewah dan penuh kasih sayang sejak lahir, dia satu-satunya anak perempuan Carl Mclover, seorang penguasaha sukses dengan latar belakang kriminal yang membahayakan keluarganya. D...
