"Madilyn, ada yang harus kita lakukan nanti setelah kamu lebih sehat." Tiffany memberikan suntikan kepada Madilyn.
"Tentang apa?"
"Ada, nanti aku jelasin. Sekarang kamu sehat dulu nanti kakak ceritain yang sebenarnya." jawab Tiffany yang masih meninggalkan bekas pertanyaan di benak Madilyn.
Karena masih kurang sehat, Madilyn terpaksa harus dirawat selama sehari di rumah sakit dan di ruangan yang sama ketika dia dirawat dulu. Liam selalu ada menjaganya di sampingnya dan Karlina seperti biasa, istirahat di kamar sebelah Madilyn, kamar khusus untuk para penunggu pasien pribadi seperti Madilyn.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" Madilyn bertanya tentang kejadian waktu itu kepada Liam yang sedang duduk di sampingnya.
"Aplikasi chat aku di hack sama dia waktu itu. Bukan aku yang mengajak kamu makan malam." jelas Liam.
"Siapa itu Sersan?" Madilyn menatap Liam dengan tatapan curiga, "Dia itu saudara dari mantan aku yang sudah meninggal. Dia gak terima adiknya meninggal karena itu dia tidak ingin aku bahagia dengan perempuan lain termasuk kamu. Maaf, karena aku waktu itu meninggalkan kamu. Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi." Liam menggenggam tangan Madilyn dengan erat dan menciumnya, wajahnya memelas memohon permintaan maaf karena dia juga telah berbohong dan tidak menjaga Madilyn kemaren.
"Asal kamu disini, aku sudah senang. Aku sangat percaya dengan kamu. Kamu jangan tinggalin aku lagi, ya?" Liam terdiam sejenak dan berpikir untuk membalas ucapan Madilyn, "Iya, pasti. Aku akan ada untuk kamu seperti dulu." ucap Liam terkekeh, dia mencoba untuk mencairkan suasanya yang terlalu sendu dengan mengingat masa-masa awal kerjanya ketika Madilyn masih bersikap sedingin es di kutub selatan.
Mereka berdua tertawa mengingat moment-moment masa itu. Semua itu memberikan mood tersendiri bagi Madilyn yang lebih semangat untuk sembuh dan kembali ke aktivitas biasa juga mengingat minggu depan adalah jadwalnya untuk pergi ke New Zealand dan dia akan sangat merindukan Liam. Dia berharap untuk menyempatkan waktu bersama Liam selama dirinya masih di Bali, akan tetapi, dia sangat sibuk dengan pekerjaan dan rapat.
"Kan aku temenin kamu pas lunch, dinner kalau perlu breakfast juga di kamar kamu. Aku anterin kamu ke kantor. Kita pulang bareng, karaoke di mobil bareng. Kita selalu bersenang-senang di tengah-tengah kesibukan kamu, kan?" Liam mencoba membuat Madilyn untuk bisa melepasnya karena dia harus fokus kepada pekerjaan demi karir dan kemajuan perusahaanya.
"Rasanya berat aku melepas kamu. Aku akan di New Zealand selama seminggu, rasanya pasti bertahun-tahun sampai menunggu aku kembali lagi buat ketemu kamu, Papa bilang kamu gak bisa ikut karena ada kegiatan di organisasi kamu, ya?" tanya Madilyn.
"Iya, sayang sekali. Kalau kamu dah pulang, nanti kita bisa seneng-seneng lagi. Aku akan merindukan kamu." Liam mencium tangan Madilyn. Dia menyembunyikan rasa sedihnya di dalam hatinya. Dia tidak bisa menggambarkan bagaimana rasa sakitnya berbohong dan berpura-pura tersenyum di depan perempuan yang sangat dia cintai.
Namun, apa daya, Liam harus melakukan semua itu. Dan dia tidak punya pilihan lain. Mustahil baginya juga untuk memutar waktu dan tidak mencintai Madilyn. Ada penyesalan sedikit dalam hatinya, namun, semuanya sudah terlanjur terjadi. Hatinya sudah tersangkut dan jika raganya pergi, dia tidak akan mengambil hatinya bersamanya. Dia telah kehilangan hatinya sekali lagi.
"Udah selesai?" Tiffany sudah berdiri di depan pintu selama beberapa detik setelah mereka berpegangan tangan dan berciuman. Liam pamit, kemudian dia keluar dari ruangan Madilyn.
"Aku sengaja gak bilang ini ke Mama Papa cuma karena aku juga gak terlalu yakin bener apa gak." ucap Tiffany tiba-tiba. Dia melepaskan semua peralatan kesehatan yang melekat di tubuh Madilyn tidak termasuk perban yang membalut luka Madilyn.
KAMU SEDANG MEMBACA
Personal Bodyguard
RomansaMadilyn Mclover bisa mendapatkan segalanya, kehidupannya yang glamour, mewah dan penuh kasih sayang sejak lahir, dia satu-satunya anak perempuan Carl Mclover, seorang penguasaha sukses dengan latar belakang kriminal yang membahayakan keluarganya. D...
