"Liam, kesini kamu." Madilyn memanggil Liam ketika dia sudah duduk di sofa depan televisi.
Liam yang merasa terpanggil pun segera masuk dan menemui boss yang mengabaikannya tadi.
"Ada apa nona?" Liam dengan tegas bertanya,
"Kaku banget." Madilyn melirik Liam sinis.
"Ini tolong kamu cek dimana alamat orang ini karena anonim ini jadi, saya mau tau darimana lokasi orang ini mengirim pesan. Bawa aja sekalian laptopnya." perintah Madilyn yang dianggukan oleh Liam.
"Kamu baik-baik aja, kan? Kamu terlihat sedih?" sebelum beranjak keluar dari kamar Madilyn, Liam sempat bertanya dan mengkhawatirkan kondisi Madilyn setelah pagi tadi.
"Iya, cuma tadi keinget soal kak Elton sama Calvin, dah kamu keluar sana." perintah Madilyn yang terdengar mengusir.
Liam pun lega mendengar hal itu, dia segera keluar dan mengecek darimana sinyal pengirim itu berasal.
Liam mengecek dengan teliti dan menemukan sebuah sinyal dari tempat yang dia sebenarnya tidak asing karena dia mengetahui dengan benar siapa yang mengirimkan sinyal itu. Dia mencoba menghubungi orang itu untuk mengatakan agar mereka dengan cepat menghapus segala datanya termasuk alamat email dan segalanya yang memungkinkan untuk dilacak.
Liam membanting ponselnya dengan emosi karena dia kesal jika sampai Madilyn Mclover mengetahui semua itu. Dia mempercayai ayahnya daripada pesan dari orang asing dan hal itu akan menyulut emosi Carl yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang yang ada di alamat itu dan Liam tentunya tak ingin jika hal itu terjadi.
Dia mengembalikan laptop Madilyn kembali ke meja kerjanya sedangkan, Madilyn sudah tertidur dengan lelap dan mimpi indah. Seperti biasa, tugas Liam adalah menjaga Madilyn karena itu dia harus berada di pintu sampai fajar tiba. Tidak ada apapun, terkadang jika bosan Liam bermain game atau dia menelpon Lyra, sahabat perempuan satu-satunya yang selalu ada sejak kematian adiknya. Liam hanya menatap lampu mewah nan berkilau yang bersinar menyinari ruangan besar rumah Mclover yang mewah layaknya istana.
Sudah sebulan dia menjaga sang putri tidur tetap aman. Meski dia merasa bersalah karena tidak melakukan tugasnya dengan baik malah selalu ingin bertindak yang sebaliknya. Dia takut jika Madilyn mengetahui semua itu di tengah-tengan cintanya yang sedang tumbuh. Dia tak ingin jika cinta itu hancur begitu saja karena masa lalunya yang mungkin Madilyn tak terima.
***
"Jadi, soal apa semalam?" Madilyn bertanya ketika sedang menikmati sarapan bersama orang tuanya.
"Tidak ada yang menarik. Tempat itu dekat dengan resort, namun sepertinya pengguna itu sudah meninggalkan tempatnya karena terakhir kali saya mengeceknya, emailnya sudah di hapus." jelas Liam.
Madilyn memasukkan wortel ke dalam mulutnya, "Aneh, ya udah kamu pergi sana. Tunggu diluar sampe saya selesai, nanti kamu anterin saya ke kantor." perintah Madilyn.
"Istirahat aja dulu. Oh ya, semalam tentang apa?" Carl yang penasaran pun bertanya kepada Madilyn.
Madilyn menyipitkan matanya mendengar pertanyaan ayahnya dan berakhir dengan sindiran, "Ada orang berbahaya di keluarga kita, entah siapa itu." ucap Madilyn menatap ayahnya dengan tajam.
"Apa maksud kamu, Madilyn?" Carl menatap putrinya serius,
"Ada seseorang yang mengirim pesan semalam tentang papa. Kalau papa itu berbahaya dan dia masih tinggal di Bali. Sayangnya, sepertinya dia sudah pindah karena lokasinya akan terdeteksi sebab dia mungkin tau bahwa Papa akan membunuhnya sama seperti Papa membunuh Farrel dan memperlihatkan seolah itu adalah bunuh diri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Personal Bodyguard
RomanceMadilyn Mclover bisa mendapatkan segalanya, kehidupannya yang glamour, mewah dan penuh kasih sayang sejak lahir, dia satu-satunya anak perempuan Carl Mclover, seorang penguasaha sukses dengan latar belakang kriminal yang membahayakan keluarganya. D...
