Mereka tidak ketinggalan pesawat untungnya dan sampai di Bali setelah beberapa menit. Madilyn tak ingin jika Liam duduk di belakang bersama dengan dirinya karena dia khawatir mereka akan ketahuan berpacaran. Madilyn sudah merasa pusing karena dia hujan-hujanan di pantai akan tetapi, dia merasa senang saat itu apalagi ketika dia berpapasan dengan Liam. Dia tak bisa melupakan semua kenangan itu.
"Ma, kok mendadak sih ini surgery-nya? kan luka aku belum tentu udah sembuh?" protes Madilyn kepada ibunya yang sedang akan tidur bersama dengan ayahnya.
"Bulan madunya kurang ya di Paris?" Madilyn mengernyitkan dahinya heran, dia kesal karena pertanyaanya tidak digubris oleh ibunya.
"Heh Madilyn! gaboleh gitu, kita ini kan suami istri." ucap Helena
"Oh ya soal appointment kamu itu sebenarnya udah dari sejak kamu ngeyel minta operasi plastik. Mama telpon tante Laura katanya dia punya temen di London kerjanya operasi plastik, ya udah deh Mama langsung telpon minta appointment bulan depan. Kamu udah baikan katanya Tiffany cuma tinggal check-up sekali, makanya Mama ganti jadwal." jelas Helena.
"Ya udah deh. Emang Mama gak keberatan nemenin aku seminggu di RS, apa Mama nanti gak bosen?" ucap Madilyn yang biasanya melihat ibunya tak pernah bosan dengan pekerjaanya dan selalu bekerja siang malam sama seperti ayahnya.
"Ya gak dong sayang, apa pun akan Mama lakukan untuk kamu." jawab Helena.
"Termasuk merestui aku kan kalau aku nikah nanti?" Madilyn mengangkat alisnya dan pertanyaannya membuat Helena sedikit kebingungan.
"Tentu saja sayang asal dengan pria yang cocok untuk kamu." ucap Helena lirih.
"Ya tentu cocok ya dia harus mampu membiayai hidup kamu dong. Papa membesarkan kamu gak cuma pake cinta, pake duit juga, sayang." ucap Carl yang membuat Madilyn murung kesal.
"Carl!!" Helena memanggil suaminya dan memberi tanda untuk berhenti karena dia tidak ingin jika Madilyn mengulangi masa lalunya.
"Ya udah kamu tidur, besok ada rapat kan?" perintah Carl yang langsung dituruti oleh Madilyn.
Keesokan harinya, Madilyn merasa lemas dan demam tinggi. Cassie yang melihat hal itu ketika dia hendak membuka jendela kamar Madilyn pun segera menelpon dr. Tiffany untuk segera datang. Tiffany pun mengiyakan dan akan datang sebentar lagi. Selama menunggu, Cassie masih duduk disana dan melihat sebuah catatan Madilyn yang sangat tidak rapi. Cassie tersenyum tipis dan menahan tawa melihat tulisan tangan Madilyn yang sangat jelek.
"Heh Cassie, gak sopan loh. Ini kalau nyonya besar lihat bisa kena marah kamu ngotak ngatik barangnya Madilyn Mclover." jelas Tiffany yang membuat Cassie berdiri dan mendekat ke arah Tiffany, "Nyonya tolong jangan bilang nyonya besar," pinta Tiffany lirih, wajahnya memelas kepada Tiffany yang menyiapkan beberapa alat untuk memeriksan Madilyn.
"Iya, tunggu sini kamu," perintah Tiffany kepada Cassie agar tidak keluar dari kamar Madilyn terlebih dahulu karena barangkali jika Tiffany butuh sesuatu dia tak perlu berteriak keluar.
Tifanny mengecek tekanan darah Madilyn yang turun lagi dan termoternya yang tinggi. Tiffany menepuk pipi Madilyn untuk memastikan bahwa Madilyn tidak pingsan karena tekanan darahnya rendah lagi.
"Sayang, kamu baik-baik aja." ucap Tiffany yang melihat Madilyn perlahan membuka matanya.
"Liam mana?" Madilyn mencoba untuk membuka matanya akan tetapi, dia terlalu lemas untuk berdiri, "Shhhh, jangan kemana-mana dulu. Kamu istirahat aja ya." saran Tifanny yang tidak ingin terjadi sesuatu kepada adik iparnya.
Tiffany mencoba meletakkan Madilyn pada posisi dan memberinya obat tidur agar dia istirahat hari ini karena demamnya masih cukup tinggi.
"Bangunkan saja jam set 10 pagi, nanti kamu siapin sate kambing sama nasi dan jus jeruk ya." perintah Tiffany yang dianggukan oleh Cassie, "Oh ya jangan lupa obatnya nanti di terima dan siapkan sesuai petunjuk, suruh dia minum obat yang sudah kamu sediakan, ya? paham kan, Cassie? jangan sampai ada kesalahan dalam pemberian obat loh ya, sesuai petunjuk!!!" Jelas Tiffany kepada Cassie yang hanya menganggukkan kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Personal Bodyguard
RomansaMadilyn Mclover bisa mendapatkan segalanya, kehidupannya yang glamour, mewah dan penuh kasih sayang sejak lahir, dia satu-satunya anak perempuan Carl Mclover, seorang penguasaha sukses dengan latar belakang kriminal yang membahayakan keluarganya. D...
