"Halo, ini siapa?" Madilyn mengulangi pertanyaannya karena dia tidak yakin dengan suara yang didengarnya adalah Liam apa bukan. Di telpon masih hening sesaat dan masih belum ada jawaban atas pertanyaan Madilyn.
"Madilyn___" panggil pria itu perlahan, sepertinya memang Liam. Madilyn sudah yakin itu pasti Liam. Cara suara Liam yang memanggilnya dengan nada yang khas, itu pasti Liam, dalam benaknya dia sudah sangat yakin.
"Liam, kenapa kamu tidak telpon aku? kamu dimana sekarang? kenapa kamu pergi? kapan kamu kembali? kamu baik-baik aja kan?" celoteh Madilyn dengan pertanyaan-pertanyaan setelah sekian lama mereka tidak berbincang.
"Aku baik, maaf kita harus mengakhiri semua ini." Ucap Liam lirih.
"Apa maksud kamu?" Madilyn bertanya dan mulai panik karena Liam terdengar tidak bercanda saat ini.
"Aku ingin kita putus. Selamat tinggal, Madilyn." Ucap Liam dengan santainya kemudian dia menutup telponnya dan membuat Madilyn merasa sangat hancur. Hatinya patah dan hancur berkeping-keping mendengar keputusan Liam memutuskan hubungannya begitu saja tanpa adanya sebab yang jelas. Dia meneteskan air matanya karena hatinya sedang begitu terluka. Dia tersungkur di atas tanah, tanpa sadar dia menggenggam batang mawar yang masih berduri dan membuat tangannya penuh dengan darah. Rasa sakit yang ada di tangannya tak sebanding dengan rasa sakit yang dia rasakan di hatinya. Dia merasa hancur karena setelah menanti kejelasan dan dia mendapatkan jawaban benar-benar menghancurkan segelanya.
"Non, kenapa ada disini." Teriak Cassie yang melihat Madilyn pingsan dan tangannya penuh dengan darah serta matanya penuh dengan air mata yang masih mengalir.
Hujan deras telah menghapus darah yang ada di tangan kirinya. Vin menggedong Madilyn ke kamarnya, dia juga menelpon dokter Tiffany untuk merawat luka Madilyn serta memeriksa bagaimana kondisi Madilyn saat ini. Vin tidak menelpon Carl karena Carl sempat melihat itu dan langsung menuju ke kamar Madilyn untuk melihat keadaan putrinya. Carl tidak heran dan tidak terkejut, dia hanya khawatir dengan darah yang masih perlahan mengalir dari telapak tangan Madilyn.
"Bagaimana telapak tangannya bisa terluka? Apa yang dia lakukan?" Tanya Carl kepada Cassie.
"Dia tadi menggenggam batang mawar yang berduri. Sepertinya dia menggenggam sangat erat bunga mawar itu." Jelas Cassie.
Setelah beberapa menit Tiffany datang dan segera merawat luka Madilyn. Dia juga memeriksa kondisi Madilyn yang baru saja keluar dari rumah sakit tadi pagi. Kondisi Madilyn saat ini masih kurang bagus, tekanan darahnya saja turun hingga 70/50 mmHg.
"Buatkan jus jeruk, Cassie. Tekanan darahnya menurun lagi sepertinya dia agak stress. Papa jangan buat Madilyn stress ya agar kondisi anak kesayangan Papa ini lebih membaik." Tiffany menatap Carl karena dia menduga bahwa Carl lah yang mungkin saja membuat keadaan Madilyn seperti ini.
"Dia hanya butuh sedikit liburan karena dia merasa tertekan oleh pekerjaan. Dia akan baik-baik saja, kan?" Carl terlihat khawatir ketika menanyakan kondisi putrinya kepada Tiffany.
"Iya, asal dia jauh dari stress dan sedih, ya Papa mertua."
Tiffany yang melihat Cassie masuk dia menyerahkan resep obat untuk Madilyn kepada Cassie. Tiffany pamit dan menasehati Carl agar tidak membuat Madilyn stress dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Carl tidak menggubris ucapan Tiffany sama sekali. Carl telah bermain sejauh ini dan dia selalu menang. Dia tak pernah kalah dan dia tak akan pernah. Dia mempunyai kontrol terhadap Madilyn dan Madilyn harus menuruti semua permintaannya demi hidupnya sendiri. Carl mempunyai alasan kuat mengapa dia melakukan ini dan dia merencakan semua ini dengan sempurna. Tak ada celah yang pernah dia buat selama ini.
Carl menggenggam tangan kanan putrinya dan menciumnya. Dia sempat merasa bersalah akan tetapi, Madilyn sangat mirip dengan seseorang yang sampai hari ini masih ada di hati Carl. Dia tidak akan bisa jika dia kehilangan putri satu-satunya suatu hari nanti. Dia lebih baik mati daripada Madilyn yang harus mati. Carl melakukan apa saja untuk melindungi Madilyn dan Madilyn selalu jatuh hati pada pria yang salah menurut Carl. Dia tidak ingin jika anaknya lah yang harus menjadi korban untuk membayar kesalahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Personal Bodyguard
RomanceMadilyn Mclover bisa mendapatkan segalanya, kehidupannya yang glamour, mewah dan penuh kasih sayang sejak lahir, dia satu-satunya anak perempuan Carl Mclover, seorang penguasaha sukses dengan latar belakang kriminal yang membahayakan keluarganya. D...
