Senja
Stef, aku pulang..
.
.
Steffan terkejut melihat isi pesan dari Senja. Sudah lama sekali mereka tidak berkomunikasi. Steffan juga terkadang sudah lupa dengan Senja. Semenjak Shella hamil, dia hanya fokus pada Shella dan calon anak mereka.
Ia memandang Shella yang sedang bermain dengan Rafka. Kenapa rasa ini harus kembali hadir, disaat hampir hilang, dia kembali. Dia takut Shella tau dan menjadi beban pikiran untuk istrinya.
Dia menggenggam ponselnya dengan erat, bingung harus membalas apa. Dalam hati, ia merasa senang saat mendengar Senja pulang. Tapi disisi lain ia sudah mempunyai Shella, dan berjanji akan mencintai wanita yang menjadi istrinya itu.
Bahkan Senja mengirim foto dirinya saat ada di pesawat. Dan meminta Steffan menjemputnya di bandara nanti. Steffan berusaha agar abai.
"Pak, kenapa?" Shella menepuk bahu Steffan saat melihat suaminya gelisah.
Steffan hanya membalasnya dengan gelengan. Ia menatap Shella yang juga menatapnya dengan khawatir.
"Saya ada salah?" Tanya Shella.
"Enggak, saya hanya lelah. Mau istirahat, kamu jangan lupa kerjakan tugas kuliahnya, nanti kalau susah panggil saya aja,"
Setelah mengatakan itu, Steffan pergi dari sana. Shella hanya mengangguk saja dan kembali bermain dengan Rafka. Shella berfikir bahwa Steffan hanya sedang lelah dengan pekerjaannya.
🌱
"Pak, ayo makan malam dulu. Saya udah masak," ajak Shella.
"Kenapa harus kamu yang masak? Jangan terlalu lelah Shel, ingat kamu lagi hamil," Steffan berbicara dengan nada yang terkesan dingin.
"Maaf Pak, tapi di rumah kan cuma ada saya, Bapak, sama Rafka. Mamah lagi ada urusan di kantor," jelas Shella dengan suara pelan.
Steffan menghela nafasnya lalu berjalan ke meja makan, Shella memandang punggung Steffan dengan banyak pertanyaan di benaknya. Ada apa dengannya..
"Kamu masak brokoli? Kan saya bilang tidak terlalu suka, gimana sih?" Omel Steffan.
"Maaf pak, saya kan ga tau,"
"Terserah,"
Shella memejamkan matanya sambil berpikir, apa lagi kesalahannya. Padahal ia tidak merasa melakukannya. Steffan mengapa mudah sekali tersinggung hari ini. Shella menebak jika Steffan hanya mendapat banyak tekanan di kampus atau kantor keluarganya.
"Yaudah, Bapak mau makan apa? Biar saya yang masakin," ujar Shella membujuk Steffan.
"Gak usah,"
🌱
"Shella, bukan seperti ini caranya!" Steffan menyerahkan kembali beberapa lembar tugas pada Shella.
"Terus gimana pak? Saya aja pas nanya bapak tadi gak jawab," balas Shella.
"Taruh aja disana, nanti saya yang kerjakan," ujar Steffan tanpa memandang shella, dia hanya fokus dengan laptopnya.
"Pak, saya ke rumah Megan ya," Shella mencoba meminta izin.
"Mau apa?" Tanya Steffan.
"Saya mau ketemu dia, kangen. Dedek juga yang pengen."
"Tapi saya lagi sibuk, kamu tidak lihat?"
"Saya bisa berangkat sendiri kok naik taksi. Janji nggak pulang malem," Shella mencoba meyakinkan Steffan agar mengizinkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With My Lecturer [republished ]
Teen FictionDi dunia ini yang paling menyebalkan bagi Shella adalah tugas. Apalagi dengan dosennya yang sangat menyebalkan. Shella rasanya ingin menhilang saja. "Rashella Anindya! Kamu bisa belajar lebih serius? Mau jadi apa kamu ini?" "Istri bapak hehe," "M...
![Life With My Lecturer [republished ]](https://img.wattpad.com/cover/293645511-64-k99627.jpg)