Shella menghela nafasnya lelah setelah dia turun dari mobil. Dia seharian ini kerja kelompok di rumah Megan untuk tugas projeknya. Sebenarnya Megan meminta Shella pulang terlebih dahulu, namun Shella menolak. Dia ingin ikut berpartisipasi.
Perlahan Shella membuka kunci pintu rumah, sudah sangat sepi karena jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Pasti Steffan sudah tidur karena kelelahan setelah tadi mengajar dikampus dan menghadiri beberapa acara seminar, pikir Shella.
Dia membuka pintu kamarnya perlahan, ternyata dugaannya salah. Shella melihat Steffan yang duduk di sofa sambil menatapnya tajam.
"Bapak belum tidur?" Tanya Shella berbasa-basi.
"Darimana?! Ini sudah jam 11 malam Shella! Kenapa baru pulang?!"
"Maaf Pak, tadi saya kerjain tugas di rumah Megan," Shella menunduk.
"Kamu ini emang ga tau waktu ya? Keterlaluan! Pulang malam-malam gini! Kamu itu lagi hamil Shella. Gimana kalau kandungan kamu kenapa-napa?!"
Shella tetsenyum tipis, namun hatinya merasa sesak. Mengapa hanya anak dalam kandungannya yang Steffan khawatirkan, apa dia tidak menghkawatirkan Shella.
"Anak Bapak baik-baik aja kok, saya jaga dia tenang aja, saya gak makan yang aneh-aneh." Shella lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Shella menatap pantulan wajahnya di cermin. Setitik air mata jatuh, entah mengapa rasanya sangat sakit saat mendengar Steffan mengatakan itu.
Dia mengusap perutnya dengan lembut. "Maafin aku ya, pasti kamu di dalam perut aku ga tenang ya?"
Setelah beberapa menit, ia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ranjangnya. Steffan belum tertidur, dia masih memainkan ponselnya.
Shella berbaring membelakangi steffan, dia sebenarnya ingin marah. Tapi dia berusaha menahannya. Ia ingat ucapan Senja kala itu. Ya, Steffan terpaksa menikahinya.
"Saya nungguin kamu dari tadi, Shella!"
"Saya gak minta Bapak nungguin saya," balas Shella.
🌱
"Shel, muka kamu pucat. Kamu sakit?" Tanya Steffan sambil menangkup wajah shella. Dia menghentikan mobilnya ketika sedang lampu merah. Dia awalnya hanya melirik Shella yang hanya diam, namun ternyata wajahnya sangat pucat.
"Gapapa, Pak,"
"Pulang ya," bujuk Steffan.
"Jangan pak, ada matkul wajib hari ini," tolak Shella.
"Tapi saya khawatir sama kamu, pulang ya. Biar bisa istirahat. Saya antar. Mata kuliah gak penting, kamu harus istirahat," Steffan masih berusaha membujuk Shella.
"Pak, saya masih banyak tugas!"
"Shella!" Nada suara Steffan meninggi.
"Saya baik-baik aja, saya sehat kok. Jangan terlalu khawatir, anak Bapak baik-baik aja, gak perlu khawatirin dia banget, saya bakal pastiin dia baik-baik aja," Shella menahan tangan Steffan yang hendak memutar balikan mobilnya.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Steffa.
"Saya baik-baik aja, mungkin." Shella menggedikan bahunya.
🌱
Shella hanya diam selama Steffan mengajar di kelasnya. Biasanya dia paling antusias dan menjahili dosennya itu. Namun kini berubah, membuat teman sekelasnya bingung.
"Tumben lo ga godain Pak Dosen," teman sebelahnya menyenggol pelan Shella.
"Gak apa-apa," Shella menggeleng.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With My Lecturer [republished ]
Teen FictionDi dunia ini yang paling menyebalkan bagi Shella adalah tugas. Apalagi dengan dosennya yang sangat menyebalkan. Shella rasanya ingin menhilang saja. "Rashella Anindya! Kamu bisa belajar lebih serius? Mau jadi apa kamu ini?" "Istri bapak hehe," "M...
![Life With My Lecturer [republished ]](https://img.wattpad.com/cover/293645511-64-k99627.jpg)