tiga puluh empat

3.5K 267 43
                                        

"Jadi begini, Ibu Shella terlalu banyak pikiran dan stress sehingga mengalami penurunan nafsu makan, jantung sering berdebar, kelelahan, sakit di perutnya." Jelas seoranh dokter yang barh saja memeriksa Shella.

"Saya sarankan Ibunya jangan terlalu stress ya, karena bisa mengalami keguguran. Saya kasih resep obatnya dan nanti tinggal tebus di apotik."

"Terima kasih dokter,"

"Sama-sama, kalau begitu saya permisi," setelah merapihkan barang-barangnya, dokter itu keluar dari kamar.

Steffan sedari tadi menggenggam tangan Shella yang belum sadar dari pingsannya. Ia merasa sangat bersalah.

"Stef, lo sekalian istirahat deh sama Shella, mata lo mirip panda. Pasti ga tidur kan," ujar Jordan.

"Gak apa-apa,"

"Ck, lo disini aja sambil istirahat. Tidur kalo perlu, keliatan capek banget. Gue mau ke depan, acara belom selesai." Chandra menepuk pundak Steffan.

Chandra, Megan, Jordan, dan Diva lalu keluar dari kamar tamu di rumah Megan. Steffan membaringkan dirinya di sebelah Shella, dia mengusap kepala Shella.

"Maaf,"

Ia membawa Shella ke dalam pelukannya, dan mengusap punggungnya dengan pelan.

Steffan memperhatikan wajah Shella yang pucat, pipinya juga menjadi tirus. Berat badan dia menurun karena terlalu stress.

🌱

Steffan membawa Shella pulang ke rumah. Kondisinya sudah sedikit membaik. Vina juga malam ini akan pulang.

"Makan ya, saya suapin,"

Shella menggeleng.

"Kamu harus makan ya, biat cepat sembuh," bujuk Steffan.

"Anak Bapak baik-baik aja kok, jangan khawatir. Maaf saya ga bisa jagain dia dengan baik," ujar Shella.

"Kamu juga, harus tetap sehat. Satu lagi, anak kita, anak kamu sama saya,"

"Sekarang kamu harus makan, saya ga nerima penolakan," tegas Steffan.

Shella terpaksa menerima suapan dari suaminya, walaupun sedang tidak ingin makan. Dia rindu dengan Rafka.

"Udah, pak,"

"Baru tiga suap, makan lagi.'

"Mual," ujar Shella memelas. Steffan menghela nafasnya lalu memberikan obat yang tadi ia tebus di apotek sebelum mereka pulang

🌱

Shella membuka matanya perlahan, ia melihat sekeliling dan tidak menemukan siapapun. Perutnya makin terasa sakit, ia mencengkram selimutnya untuk melampiaskan rasa sakitnya.

Dia bangun dan berusaha mengambil ponselnya di depan televisi. Shella menelfon Steffan.

"Halo Shel"

"Pak, dimana?"

"Saya lagi di rumah Senja,"

"Pulang sekarang pak,"

"Maaf Shel, Senja lagi demam. Saya harus jagain dia,"

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang