tiga puluh lima

3.6K 271 23
                                        

Kasian pak Steffan diamuk masal wkwk..




🌱

Keluarga Shella dan Steffan sudah berada di rumah sakit. Shella masih belum sadarkan diri, membuat semua cemas. Belum lagi dokter menjelaskan bahwa kondisi Shella cukup serius, pendarahannya mengakibatkan dia kehilangan banyak darah.

"Gimana keadaan Shella? Dia baik-baik aja kan? Bayinya juga?" Tanya Vina yang baru saja datang. Dia baru pulang ke rumah dan mendengar kabar Shella masuk rumah sakit. Dia sangat khawatir dengan menantunya itu.

Vina melihat semua yang ada disana berwajah cemas. Bahkan Yona tidak menjawab apapun, dia menatap kosong ke depan.

"Steffan? Shella gimana?"

"Shella keguguran, Mah," Steffan menunduk, dia menahan air matanya yang hendak turun.

Vina hampir terjatuh karena kakinya melemas, Steffan langsung membawanya duduk di kursi.

"Shella, ga mungkin ..." Vina menggeleng beberapa kali dia mengusap wajahnya. Air matanya turun deras, dia ikut merasakan sakit yang begitu pedih mendengar jika menantunya tidak baik-baik saja.

"Kenapa bisa?"

Steffan diam.

"Dio, kenapa? Shella jatuh?"

Dio tidak menoleh sama sekali. "Tanyain aja sama suaminya, yang istrinya lagi sekarat malah nyamperin mantan di apartemennya,"

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Steffan, pelakunya adalah ibu kandungnya sendiri. Ia tidak menyangka jika anaknya bersikap sejahat ini.

"Brengsek kamu Steffan! Mamah gak pernah ajarin kamu jadi cowok kurang ajar kayak gini!" bentak Vina.

Steffan menunduk.

"Keterlaluan kamu Steffan!" Vina mendorong Steffan menjauh, namun beberapa saat kemudian dia tergugu menangis. Merasa malu dan juga kecewa dengan kelakuan putranya.

"Mamah udah beberapa kali bilang, jangan berhubungan dengan wanita itu lagi. Kamu kenapa ga pernah dengerin Mamah? Mamah kecewa sama kamu!" Vina mengusap air matanya yang turun.

Vina menghampiri Yona yang masih diam, dia bersimpuh di hadapan Ibu dari Shella itu.

"Na, maaf ..."

Yona mengadah, dia mengusap air matanya. Hatinya hancur melihat putri yang sangat dia sayangi terbaring lemas dan dia juga tidak siap mendengar respon Shella ketika dia sadar nanti.

"Shhh,"

Mendengar suara itu, mereka semua langsung mengalihkan pandangan kepada Shella. Shella perlahan membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.

"Kamu udah sadar sayang? Akhirnya," Yona mengusap rambut Shella dan tersenyum. Namun matanya berkaca-kaca.

"Bunda, ini pasti di rumah sakit ya?" Tebak Shella.

"Iya sayang,"

"Bun, kok perut Shella ga buncit? Dedeknya udah lahir ya?" Tanya Shella sambil tersenyum lebar, ia tidak sabar melihat anaknya.

"Pasti dedeknya lucu, ganteng juga,"

"Kamu istirahat, ya, sayang. Biar cepet pulih,"

"Mau liat adek dulu,"

Pertanyaan Shella membuat semua yang disana terdiam. Steffan menghampiri Shella. Dia mengusap pundak Shella sambil menatap wanita itu dengan penuh rasa bersalah.

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang