tiga puluh delapan

506 11 4
                                        

Steffan lagi-lagi merasa terganggu dengan suara gaduh di kelasnya. Dia menatap tajam mahasiswa yang mengobrol saat jam pelajaran.

"Banu! Kalau kamu mau berisik, silahkan di luar! Kamu ganggu pelajaran saya!" tegur Steffan.

Mahasiswa bernama Banu itu menunduk. "Maaf, Pak,"

"Keluar!" bentak Steffan.

Banu menghela napas, dia mengangguk lalu berjalan keluar. Suasana kelas kini mencekam, tidak ada yang berani mengeluarkan suara karena dosennya  itu entah mengapa sudah satu bulan sangat galak dan juga gampang marah-marah.

"Ada lagi yang mau keluar?!"

Semua yang disana menggeleng.

Steffan menghela napas lelah. "Kerjakan tugas proyek, saya gak mau tau minggu depan harus sudah selesai!"

Semua mahasiswa disana terkejut, tugas itu tidaklah mudah. Harus melakukan beberapa penelitian terlebih dulu hingga memerlukan lebih banyak waktu untuk bisa selesai. Namun diantara mereka tidak ada yang berani bersuara sedikitpun.

Akhirnya kelas telah selesai, Megan menghampiri Chandra yang sudah menunggunya di mobil untuk berangkat ke restoran kesukaan dia.

"Ini kenapa dateng-dateng cemberut gini, sayang?"

"Temen mas, tuh! Nyebelin banget gila, pingin aku lempar mukanya pake telpon!" omel Megan.

"Siapa? Jordan? Steffan?"

"Ya siapa lagi kalo bukan calon duda itu!" Kesal Megan seraya melempar tas nya ke jok belakang.

"Sayang, jangan begitu ngomongnya," tegur Chandra lembut.

"Ya abisnya nyebelin, Mas! Masa semena-mena banget sama mahasiswa. Tugas projek yang harusnya bulan depan masa dimajuin jadi minggu depan sih?! Itu kan harus penelitian dulu! Harus langsung turun ke lapangan buat sosialisasi!" kata Megan menggebu-gebu.

Chandra menggeleng pelan mendengar tentang sahabatnya yang akhir-akhir ini menjadi cukup keras dan juga semaunya.

"Sebel banget aku, tuh. Dia kira dia aja yang sedih? Aku juga sedih. Aku juga kangen sahabat aku! Gara-gara dia sahabat aku pergi gak tau kemana kaya gini," omelan Megan yang awalnya menggebu-gebu kini berubah menjadi isakan tangis.

Megan terisak pelan. "Aku kangen Shella,"

Chandra memeluk Megan, dia mengusap punggung istrinya. "Sttt, sayang. Shella pasti pulang nanti. Dia pelu waktu aja,"

"Pak Steffan brengsek! Asu! Babi ngepet! Siamang! Monyet! Wedus!" umpat Megan.

...

Steffan mengetuk pintu rumah Shella pelan-pelan. Awalnya tidak ada sahutan. Namun beberapa menit kemudian pintu dibuka oleh Jiya.

"Kenapa lagi?"

"Shella dimana?"

Jiya menghela napas. "Steffan, Shella gak ada disini. Percuma kamu setiap malam kesini, Shella gak ada disini. Kita disini juga gak tau Shella kemana,"

"Kenapa? Kenapa gak ada yang cari Shella?"

"Shella butuh waktu. Dia perlu ruang dan waktu buat nerima semuanya. Dia gak bisa langsung nerima kenyataan kalo dia kehilangan anaknya gara-gara suaminya sendiri yang nyamperin mantannya saat dia lagi kesakitan," kata Jiya.

Steffan menunduk. "Saya mohon, Mbak. Kasih tau Shella dimana. Saya gak bisa tanpa dia,"

Jiya menggelengkan kepalanya. "Kita disini gak ada yang tau dimana dia,"

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang