tiga puluh enam

3.6K 267 9
                                        

Steffan melepas pelukan Senja, dia memegang kedua bahu wanita itu dan menatapnya. Senja tersenyum menatap Steffan, akhirnya waktu ini tiba.

"Dengan jalan kita masing-masing."

"Maksudnya?"

"Bahagia saya bersama Shella, dan saya yakin kamu akan menemukan laki-laki yang lebih baik dari pada saya."

Senyuman Senja luntur seketika, pupus sudah angannya jika Steffan akan melamar dan mengajaknya menikah setelah Shella keguguran.

"Jangan bercanda Steffan! Aku tau kamu masih cinta sama aku, dan terpaksa menikah sama Shella," kata Senja.

"Saya dulu memang terpaksa menikah dengan Shella, tapi semakin lama saya nyaman dan mulai jatuh cinta sama dia. Senja, perasaan saya sama kamu sudah perlahan hilang, maaf."

"Gak mungkin! Jangan bohong!"

Steffan menggeleng. "Sudah cukup saya menyakiti Shella, saya salah besar. Dan saya ingin memperbaiki semuanya,"

"Stef, aku ga mau! Aku cinta sama kamu!"

"Senja, saya dulu sangat mencintai kamu, lalu kamu khianatin saya, bahkan selingkuh sama sahabat saya sendiri,"

"Itu kan dulu Stef! Jangan bahas masa lalu. Ayo lebih baik bahas masa depan kita!"

"Maaf, saya tidak bisa. Saya harap kamu mengerti, kamu akan dapat laki-laki yang lebih baik dari pada saya,"

"Tapi aku cuma mau kamu!" Senja kini sudah menangis di hadapan Steffan.

"Senja, sudah ya. Mulai sekarang, kita hanya sebatas teman. Tolong jangan terlalu berharap sama saya, "

Steffan lalu pergi dari sana. Meninggalkan Senja yang masih tidak mempercayai itu. Wanita itu dengan kasar mengusap air mataya lalu pergi.

🌱

"Pak, ayo cerai."

Steffan yang baru masuk terkejut mendengar perkataan Shella. Dia langsung menghampiri istirnya itu. Dia menatap Shella meminta penjelasan.

"Kamu bicara apa sih, hm?"

"Ayo cerai, Pak. Kita cari bahagia kita masing-masing," kata Shella.

"Tapi bahagia saya itu sama kamu, Shella."

Shela menatap Steffan. "Kita menikah karena terpaksa, saya tau Bapak gak bahagia. Jadi lebih baik kita pisah, saya gak mau kalau nantinya akan lebih saling menyakiti."

"Saya ga mau!" Tolak Steffan dengan tegas.

"Pak!"

Belum menyelesaikan pembicaraannya, Steffan langsung memeluk Shella. Ia menggeleng beberapa kali. "Saya gak mau pisah sama kamu. Demi Tuhan saya gak bisa kehilangan kamu, Shel,"

"Saya capek pak, selama ini saya nahan marah, cemburu, dan kecewa sama Bapak. Kenapa harus selalu dia yang diprioritasin, saya capek. Jadi lebih baik kita pisah,"

"Saya ga mau pisah sama kamu, saya mohon jangan ucapkan itu," lirih Steffan.

"Pak, jangan kayak gini. Jangan egois," ucap Shella.

"Kamu mau cerai? Jawaban saya, tidak!"

"Pak-"

"Sampan kapanpun saya gak akan pernah sudi menginjakan kaki di pengadilan agama karena cerai sama kamu, "


Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang