empat puluh

3.8K 276 5
                                        

Pagi ini Shella berencana akan ke rumah Megan, ia sudah sangat merindukan sahabatnya itu. Tak lupa membawa beberapa cemilan dan juga buah untuk sahabatnya itu.

Setelah makan dan meminum obatnya, Steffan langsung tertidur karena semalaman dia tidak tidur akibat nafasnya yang sesak hingga pria itu harus kembali menggunakan tabung oksigen.

Dia menyelimuti tubuh Steffan dengan selimut, dia menatap wajah yang biasanya menyebalkan itu kini menjadi sangat pucat dan lemah.

"Shella, jangan pergi lagi,"

Steffan mengigau, Shella mengusap kepala dia sampai kembali nyenyak tidurnya. Setelah memastikan semuanya, dia langsung berangkat ke rumah Megan.

Dia juga membawa beberapa makanan untuk Megan. Karena dia sudah menebak akan diamuk oleh sahabatnya itu.

Kini Shella sudah sampai di kediaman Megan, mereka tinggal di apartemen milik Chandra.

Setelah membunyikan bel beberapa kali, pintu dibuka oleh Chandra. Dia sempat terkejut saat melihat Shella. Bahkan sampai menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk memastikan.

"Shella?"

"Bukan Pak, saya siluman megalodon,"

Chandra terkekeh. "Kalau yang menyebalkan gini pasti emang beneran Shella,"

Shella merenggut kesal, tak bisakah dia dikenal sebagai wanita yang pendiam dan misterius. Chandra mempersilahkan Shella masuk ke dalam.

Disana ada Megan yang sedang menonton televisi sambil menggerutu.

"Megan."

Megan berdecak. "Diem Mas! Aku lagi kesel asli, mau banting orang. Udah tau aku lagi hamil, ngidam mau ketemu Shella! Hiks jahat banget aku ga dibolehin cari dia. Calon Ayah macam apa kamu?!"

"Woy megalodon!"

Megan menoleh, raut wajahnya berubah saat melihat Shella. Dia terdiam sebentar.

"Hai bumil," sapa Shella.

Detik itu juga Megan berlari ke arah Shella dan memeluk erat sahabatnya itu. Dia juga menangis saking rindunya.

"Lo kemana aja, tau ga sih gue khawatir! Jahat banget lo ninggalin gue!" Isak Megan.

"Maaf ya, gue pergi buat healing. Dan sekarang gue berhasil berdamai sama diri sendiri dan nerima semuanya," balas Shella.

"Ya lo sekiranya bilang! Gue khawatir tau. Pas gue mau makan, gue keinget lo. Disana lo makan apa. Pas mau tidur gue juga keinget lo, lo tidur dimana," isak Megan sambil mengeratkan pelukannya.

"Gue ga semiskin itu ya. Enak aja," protes Shella.

Shella mengajak Megan duduk di sofa. Chandra datang sambil membawakan minuman dan camilan.

"Kamu pergi ke mana Shel?" Tanya Chandra.

"Korea hehe," cengir Shella.

"Tuhh kan lo jahat banget, katanya lo mau pergi kesana bareng gue. Tapi malah sendiri." Megan kembali menangis.

"Iyaaa maaf ya, gue janji nanti bakal ajak lo ke sana, "

Megan mulai tenang, namun ia masih enggan melepas pelukannya pada Shella.

"Steffan hancur pas tau kamu pergi, dia seperti orang yang kehilangan semangat hidup, dia jadi makin dingin sikapnya. Setiap harinya dia sibukin diri sama pekerjaan. Sering banget dia minum obat tidur, dia bilang cuma itu yang bisa bikin dia istirahat dengan tenang.  jadi dia overdosis." Jelas Chandra.

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang