empat puluh tujuh

3.4K 248 13
                                        

"Mau kemana, pak?" Tanya Shella saat melihat Steffan memakai jaketnya dan mengambil kunci motor. Tumben banget. Biasanya Steffan paling ogah pergi malem malem naik motor.

"Mau beli sate ayam di depan," katanya.

"Pak, kita baru aja makan loh. Masa udah lapar lagi?" Shella beralih menghampiri suaminya itu.

"Gak tau, tapi saya lapar. Kamu mau ikut?"

"Ayo deh, ikut aja, saya bosen di rumah,"

"Pakai jaketnya, ini udah malem. Kedinginan kamu nanti," Steffan mengambil hoodie miliknya dan memakaikan pada Shella.

Setelah itu, dia langsung berangkat menggunakam sepeda motor. Awalnya Steffan akan menggunakan mobil karena Shella ikut, namun Shella menolaknya.

Mereka kini tiba di tempat jualan sate di pinggir jalan.

Shella tersenyum melihat suaminya yang lahap memakan sate itu. Tangannya terulur membersihkan bumbu yang ada di sudut bibir Steffan.

"Mau?"

Shella membuka mulutnya saat Steffan menyuapinya.

"Mau kemana lagi habis ini? Mumpung malam minggu," tawar Steffan.

"Alun-alun aja gak, sih? pasti seru banget."

"Oke,"

🌱

Shella dan Steffan berpegangan tangan sambil jalan-jalan di alun-alun. Selayaknya seperti orang yang berpacaran.

Steffan sedari tadi memperhatikan wajah Shella yang tertutupi oleh helaian rambutnya karena tertiup oleh angin.

"Kenapa liatin saya gitu? Ada yang salah ya? Atau saya terlalu menor?" Tanya Shella sambil menyentuh wajahnya.

Steffan menggeleng. "Kamu cantik, cantik sekali. Saya beruntung memiliki kamu,"

"Oh, jadi Bapak cinta sama saya cuma karena cantik aja gitu?!"

"Enggak, saya cinta sama semua yang ada sama kamu. Mulai dari sifat bawel, cerewet, galak, baperan, cengeng, suka ngambek,"

"Terus aja teruss," ujar Shella malas.

Steffan tertawa lalu memeluk wanitanya dari samping. Dia mengecup pipinya beberapa kali.

"Tuh kan, kalau ngambek gini lucu. Intinya saya cinta sama kamu,"

"Apa sih kayak abg aja, udah tua juga," Shella memalingkan wajahnya yang merona.

"Enak aja udah tua, saya ini masih muda ya!" Protes Steffan.

"Ini udah ubanan," Shella menunjuk rambut Steffan.

"Masa iya? Ngarang kamu ini,"

"Iya-iya bercandaa, ngambekan ih si Bapak,"

🌱

Shella memijat tengkuk suaminya yang mencoba memuntahkan sesuatu. Tapi hanya air saja yang keluar. Steffan benar benar dibuat lemas dengan morning sickness pagi ini. Sudah hampir enam kali bolak balik ke kamar mandi

"Pusing banget gak kuat," ringis Steffan sambil menyandarkan kepalanya di pundak Shella. Kepalanya terasa sangat berputar dan bahkan dia berdiri saja hampir oleng.

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang