Senja
Bisa ketemu?
Aku kangen..
.
Steffan menghembuskan nafasnya kasar, ia bingung harus menemuinya atau tidak. Jujur saja, ia juga merindukan Senja. Namun kini keadaannya sudah beda.
Pandangannya beralih pada Shella yang masih tertidur. Ia mengusap pipi Shella dan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya.
Shella terbangun, ia mengerjapkan matanya saat merasakan usapan di pipinya.
"Kenapa pak?"
Steffan menggeleng. "Enggak, kamu tidur lagi saja."
"Udah ga ngantuk, saya laper tapi," ujar Shella sambil menunjukan cengirannya.
Steffan tekekeh. "Mau makan apa tuan putri? Biar saya yang bikin,"
"Mau nasi goreng ya," pinta Shella sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit karena kehamilannya.
"Oke, mau ikut ke dapur atau tunggu disini?"
"Ikutt!" Seru Shella lalu beranjak dari tempat tidurnya.
"Ayok, jalannya hati-hati,"
Shella mengikuti Steffan ke dapur. Sepertinya belum ada yang bangun karena ini masih tengah malam.
"Kamu duduk saja, biar saya yang buatkan," Steffan mengambil kursi dari meja makan dan mendudukan Shella di sana.
"Terus saya harus ngapain?"
"Diam saja, dan liat saya masak," jawab Steffan tanpa berbalik ke arah Shella, dia hanya fokus dengan masakannya.
Shella memperhatikan Steffan yang sedang memasak, ia mengulas senyumnya. Ketampanannya berkali-kali lipat. Apalagi dia mengenakan kaos hitam, membuatnya semakin tampan.
"Bapak kalo mau keliatan berdamage ga usah "hm hm", lebih berdamage kayak gini pak, vibesnya boyfriend material di pinterest," gumam Shella.
"Kalo semua dijawab "hm hm" malah kayak orang bisu jadinya, bikin saya darah tinggi,"
Steffan tertawa, benar juga. Shella sampai mendiaminya seharian. Ia menjadikan nasi goreng yang sudah ia buat dan memberikannya pada Shella.
"Makasih pak,"
"Habiskan, ya, tapi saya bingung rasanya gimana," Steffan menggaruk tengkuknya.
Shella memakannya dan merasakan rasanya. "Enak banget pak,"
"Iya, kah?"
Shella mengangguk antusias, dia juga menyuapi Steffan.
"Enak kan?"
Steffan mengangguk, ia tidak menyangka jika bisa membuat nasi goreng, padahal sebelumnya ia jarang sekali memasak.
"Saya pikir rasanya hancur, ternyata lumayan."
🌱
Steffan masuk ke dalam ruangannya, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Sungguh ia sangat lelah hari ini. Banyak sekali kegiatan yang ia jalani. Belum lagi Senja yang terus memaksa agar bisa bertemu.
Belum lagi nanti malam ia harus membantu Bima di kantor.
"Stef, apa kabar?"
Steffan membuka matanya, alangkah terkejutnya ia saat melihat Senja berada di hadapannya.
"Kaget ya? Kamu sih aku chat ga dibalas," Senja duduk di kursi depan meja Steffan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With My Lecturer [republished ]
Novela JuvenilDi dunia ini yang paling menyebalkan bagi Shella adalah tugas. Apalagi dengan dosennya yang sangat menyebalkan. Shella rasanya ingin menhilang saja. "Rashella Anindya! Kamu bisa belajar lebih serius? Mau jadi apa kamu ini?" "Istri bapak hehe," "M...
![Life With My Lecturer [republished ]](https://img.wattpad.com/cover/293645511-64-k99627.jpg)