Dio melihat Shella yang memandang ke luar jendela. Dia menghampiri sang Adik lalu mengusap pundaknya pelan.
"Gue gak tau ke depannya bakal gimana, bang," kata Shella pelan.
"Shel, semua keputusan ada di lo. Kalo lo emang mau lanjut, ya silahkan. Kalo misalkan lo mau berhenti, pulang ke rumah lagi, ya? Jadi Adek kesayangan gue lagi," ujar Dio.
Shella memejamkan matanya, saat itu juga air matanya jatuh. Dia memeluk kakaknya. "Gue bingung, Bang. Gue takut, rasanya susah banget."
Dio mengangguk. "Gue paham,"
"Gue capek, tapi gue gak tau kenapa susah buat berhenti,"
Dio mendengarkan Shella tanpa berkata apapun, dia hanya mengusap punggung sang Adik dengan lembut.
"Gue mau minta waktu. Gue mau pergi sementara boleh? Gue mau nerima semuanya," kata Shella.
"Gimana maksud lo?"
"Gue mau pergi sementara, bang. Gue gak mau disini, ada disini terus ketemu sama orang yang gue kenal rasanya gak tau kenapa gue gak nyaman, gue makin sesek dan gak bisa nerima kenyataan, gue gak suka mereka kasian sama gue, Bang."
Dio mengangguk. "Boleh, lo istirahat dulu aja sementara, Shel. Biarin semua keraguan lo, ketakutan lo menghilang dengan sendirinya,"
Shella mengangguk. "Makasih,"
"Lo mau kemana?" Tanya Dio.
Shella menggeleng. "Anterin gue ke bandara aja,"
Dio mengangguk. "Lo udah sehat beneran? Apa masih ada yang sakit?"
"Gak ada, gue udah sehat,"
"Siang ini gue anterin ke bandara. Nanti packing dibantuin sama Jiya. Shel, lo gak perlu buru-buru. Lo bebas nikmatin waktu lo disana sebanyak mungkin. Semuanya bakal gue urus, termasuk Steffan. Gue gak akan biarin dia tau keberadaan lo dimana, gue anggap ini hukuman buat dia karena udah sia-siain lo,"
Benar saja, siang hari Dio mengantar sang Adik ke bandara. Dio tidak bertanya apapun pada Shella. Termasuk tujuan Shella kemana atau kapan dia akan kembali.
"Sehat terus disana, Shel. Gue selalu sayang sama lo,"
Shella membalas pelukan Dio. "Lo juga, Bang. Makasih banyak, ya."
Dio mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam sakunya. "Pake ini buat selalu hubungin gue tanpa lo takut ketauan posisi lo sama semua orang. Disini cuma ada kontak gue sama Bunda,"
Shella mengangguk. "Sekali lagi makasih banyak, Bang,"
"Udah sana masuk perawatan, ntar ketinggalan mewek lo,"
Shella tertawa lalu berjalan menuju pesawat yang akan dia naiki.
Shella pov
Hampa, itu yang gue rasain disini. Iya, gue udah empat bulan ngilang. Hebat kan gue main petak umpetnya. Kalo ini lomba pasti gue yang jadi pemenangnya. Hadiahnya harus mobil tiga biji.
Gue pergi, buat berdamai sama diri sendiri dan mencoba menerima ini semua. Gue yakinin diri gue kalo ini itu udah takdir.
Korea. Iya, gue disitu. Negara impian gue dulu, dan sekarang gue udah empat bulan ada disini. Awal masa remaja gue, setelah lulus kuliah gue mau debut.
Bercanda, tadinya gue mau lanjutin hidup disini. Tapi keburu dilamar sama crush—eh.
Jujur aja, gue masih susah buat maafin dia. Buat gue lupain kesalahan dia. Tapi hati gue ga bisa bohong, gue masih cinta sama dia. Rasa cinta gue lebih besar dari rasa kecewa gue ke dia. Bucin, emang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With My Lecturer [republished ]
Novela JuvenilDi dunia ini yang paling menyebalkan bagi Shella adalah tugas. Apalagi dengan dosennya yang sangat menyebalkan. Shella rasanya ingin menhilang saja. "Rashella Anindya! Kamu bisa belajar lebih serius? Mau jadi apa kamu ini?" "Istri bapak hehe," "M...
![Life With My Lecturer [republished ]](https://img.wattpad.com/cover/293645511-64-k99627.jpg)