empat puluh lima

3.7K 253 21
                                        

Mereka sudah hampir dua minggu berada di Kota Paris. Semua destinasi yang berada di kota sana, Shella sangat senang karena dia bisa jalan-jalan di kota ini.

Hari ini masih sangat pagi untuk terbangun. Namun Steffan harus terbangun karena perutnya terasa tidak nyaman. Dia terpaksa beranjak ke kamar mandi ketika sesuatu dalam perutnya terus memaksa keluar dan sangat mual.

Setelah memastikan sudah lebih baik, dia menyalakan flush lalu mencuci muka di wastafel. Dia melihat wajahnya di pantulan cermin terlihat pucat dan matanya sayu.

Steffan lalu kembali ke kamar dan melihat Shella masih tertidur. Langsung saja dia memeluk Shella dari belakang.

Shella terbangun. "Pak, dari mana?"

"Kamar mandi,"

Shella berbalik menghadap Steffan. "Hari ini kita full di hotel berati, ya? Siang nanti kita packing soalnya malem kita pulang,"

"Saya gak enak badan," ujar Steffan pelan.

"Hah? Sakit apa?!" Shella sontak terkejut, dia menangkup wajah Steffan yang memang benar terlihat sedikit pucat.

Steffan menggeleng pelan. "Maagh kayaknya,"

"Bentar, saya ambil obatnya dulu di tas,"

Steffan menggeleng. "Nanti aja, mau tidur lagi,"

"Biar bangun tidur langsung enakan, lho. Nanti kalo gak sakit langsung sarapan biar cepet sembuh,"

Shella akhirnya mengambil obat maagh di kotak p3k. Dia meminta Steffan duduk lalu menyuapi pria itu obat berbentuk cair agar lebih mudah meminumnya. Tak lupa memberikannya air hangat.

Steffan menyerahkan air minum itu, mulutnya terasa sangat pahit dan tidak nyaman.

Shella mengambil tisu dan menyerahkannya pada Steffan yang terlihat sedang meredakan rasa mualnya.

"Udah mendingan?"

Steffan mengangguk. "Lumayan,"

Mereka lalu kembali tertidur karena jam masih menunjukan pukul tiga pagi.

...

Shella menata sarapan di balkon kamar, baru saja pihak hotel mengantarkan beberapa menu sarapan. Jadi mereka seperti biasa akan sarapan di balkon kamar hotel.

Steffan menghampiri Shella, dia baru bangun tidur dan sudah mencuci muka. Wajah bangun tidurnya masih sangat terlihat membuat Shella tertawa pelan.

"Yuk, makan,"

Steffan menatap semua makanan yang ada disana, dia tidak berselera makan. Jadi dia hanya mengambil teh hangat saja lalu duduk di depan Shella.

"Masih sakit perutnya?"

"Enggak, sudah sedikit baikan,"

Shella memakan sandwichnya seraya menatap ke samping, pemandangan kota paris saat pagi tidak kalah indahnya. Apalagi menara Eiffel terlihat jelas disana.

"Saya mau cobain roti kamu, dong. Punya saya kok eneg ya?"

"Hah? Yaudah ini, mau tukeran?"

Steffan menggeleng. "Mau satu gigit aja,"

Shella lalu menyuapi Steffan sandwichnya. "Gimana? Beda?"

Steffan menelannya dengan susah payah. "Sama aja. eneg,"

Dia lalu meminum air teh yang cukup banyak agar menghilangkan rasa tidak enak di lidahnya.

Shella terkejut saat melihat Steffan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Shella segera menyusulnya.

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang