Berbagai macam makanan kini berada di hadapan Shella. Mulai dari makanan yang biasa Shella beli di pinggir jalan dan beberapa snack. Tak lupa ada juga beberapa cup ramen dan juga minuman.
"Pak, ini seriusan buat saya?"
"Iya, kamu makan yang banyak ya. Kalau kurang bisa minta ke saya lagi," kata Steffan.
"Ini aja belum habis lo pak, Bapak kira saya apaan makan sebanyak ini," protes Shella.
"Gak apa-apa, ini mau nonton apa? Mau saya pilihin film yang seru?"
"Upin Ipin aja Pak, kalo Bapak yang milih filmnya bahaya," sahut Shella.
Steffan tertawa, dia mengusak rambut Shella. "Bahaya apanya?"
"Dih, pura-pura ga tau. Udah cepet cari film Upin Ipin, yang episode 'kain merah Ipin' kata Megan itu seru banget,"
Steffan menurutinya, dia mencari film yang Shella maksud. Setelah film di mulai, dia duduk di samping Shella.
Sepanjang film, Shella tidak berbicara apapun. Dia hanya fokus menonton filmnya. Sedangkan Steffan menyandarkan kepalanya di bahu Shella, sesekali mengecup lehernya karena merasa gemas. Berakhir Shella mendorong kepalanya karena merasa terganggu.
"Leher kamu wangi, saya mau jadi vampire aja,"
"Dih ngaco banget. Sanaan ih geli tauu," Shella mendorong kepala Steffan pelan yang sudah keberapa kalinya.
"Ihh Bapak mah, nanti ada yang liat gimana? Terus digerebek masal gimana? Saya ga mau ya diarak keliling komplek!" Cerocos Shella.
Steffan mengecup bibir itu agar berhenti bicara, dan berhasil. Shella menjadi terdiam.
"You forgot? We're married, honey,"
Shella berdegik ngeri mendengar suara serak itu. Dia hanya pasrah saat Steffan melakukan apapun yang dia inginkan.
🌱
Steffan memeluk Shella yang sedang fokus memasak di dapur. Sesekali mengendus lehernya yang sudah menjadi candunya. Entah kenapa dia sangat menyukai parfum istrinya.
"Pak! Ih minggir dulu, nanti gosong gimana?" Shella berusaha melepas pelukan Steffan.
Steffan menggeleng.
"Tuh kan kebiasaan, geli tau. Sanaan ah!"
"Pelit banget," gumam Steffan.
"Bapak dari tadi ngikut sayaa mulu, saya udah kayak ketempelan jin. Mana ngedusel mulu lagi," protes Shella.
"Kamu samain saya sama jin gitu?" Steffan menyiritkan keningnya.
"Jin satu spesies sama Ayah Agra. Udah atuh lepasin dulu, saya mau lanjutin masak,"
"Shell kamu tuh enak buat dipeluk, anget. Sama pendek juga, kayak guling."
Shella mendelik mendengar perkataan Steffan.
"Lepas atau saya tabok pake talenan!" Ancam Shella.
"Galak kamu, makin hot juga sih kalo lagi galak gini," cengir Steffan.
"Saya beneran tabok ini mah ya. Saya potong ya anu Bapak," Shella memelototi Steffan sambil berkacak pinggang.
"Nanti kita punya anak gimana kalau masa depan saya kamu potong, siapa yang bisa muasin kamu,"
"Tuh kan makin ngelantur. Saya kayaknya harus manggil Pak Ustad buat ruqyah Bapak. Eh tapi anak Pak Ustad juga ganteng,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With My Lecturer [republished ]
Novela JuvenilDi dunia ini yang paling menyebalkan bagi Shella adalah tugas. Apalagi dengan dosennya yang sangat menyebalkan. Shella rasanya ingin menhilang saja. "Rashella Anindya! Kamu bisa belajar lebih serius? Mau jadi apa kamu ini?" "Istri bapak hehe," "M...
![Life With My Lecturer [republished ]](https://img.wattpad.com/cover/293645511-64-k99627.jpg)