Steffan hari ini sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Kini dia sedang beristirahat di kamarnya, sedangkan Shella masuk ke sebuah kamar.
"Jadi nanti adek bayi bobonya sama Aka?" Rafka sangat antusias membantu Shella menghias kamarnya.
"Iya, nanti Aka jagain ya Adeknya. Temenin bobo sama Aka," Shella mengusap rambut Rafka.
"Aka janji akan jaga adik,"
"Hm, janji yaa."
Shella mengambil pakaian yang berukuran sangat kecil itu, dia mengusapnya. Setetes air matanya terjatuh mengenai pakaian bayi itu.
Dia menundukan kepalanya menahan isakan tangisnya, walaupun belum pernah melihat bayinya secara langsung, Shella sangat menyayanginya, itu sudah menjadi bagian dari diri Shella.
"Maafin Bunda yang gagal jaga kamu " isak Shella.
Dia memeluk baju itu dengan erat, dan beberapa kali menggumamkan kata maaf karena telah gagal menjaganya.
Diambang pintu, Steffan berdiri. Ia menyaksikan semuanya. Dia dengan cepat peregi ke kamarnya. menyenderkan tubuhnya pada dinding sampai terduduk di bawah.
Di ruangan yang berbeda, mereka menangis dengan rasa sakit yang sama..
🌱
Steffan menghampiri Shella yang sedang memasak di dapur. Sejenak memperhatikannya, dia merasa sangat berdosa kepada Shella.
Shella yang sedang memasak terkejut saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
"Shel,"
"Hm," Shella mengusap tangan Steffan yang melingkar di pinggangnya.
"Lepas dulu pak, saya susah gerak. Nanti masakannya ga mateng," pinta Shella.
Steffan menggeleng, dia mengeratkan pelukannya dan menggumamkan kata maaf berkali-kali, walaupun tidak bisa mengubah semuanya.
Shella menghela nafasnya, dengan pergerakannya yang terbatas akhirnya dia selesai memasak.
"Makan dulu, ya, saya udah masak sup ayam buat Bapak," kata Shella.
Steffan bodoh, kenapa harus nyakitin orang sebaik Shella, pikir Steffan. Jika bisa memutar waktu, ia ingin memperbaiki semuanya, ia tidak akan membiarkan Senja masuk ke dalam kehidupan rumah tangganya dengan shella.
"Jangan ngelamun, nanti kesambet serem. Mana di rumah cuma kita berdua lagi," tegur Shella.
Steffan tersenyum sendu. Dia mengikuti Shella menuju meja makan. Dia menatap punggung wanita yang selama ini mencintainya dengan tulus, tapi malah dibalas rasa sakit.
"Harusnya Bapak istirahat aja di kamar, biar saya yang bawain," ujar Shella.
"Saya gak lumpuh Shel, saya masih bisa," kata Steffan sambil mengusap rambut Shella dengan lembut.
"Tapi gak boleh kecapean dulu, nanti sakit lagi,"
Shella mengalaskan makanan untuk Steffan terlebih dahulu, lalu untuk dirinya sendiri. Mereka makan dalam keheningan, tidak ada yang membuka pembicaraan.
🌱
Malam sudah larut, Steffan masih belum bisa tertidur. Sedangkan Shella sudah nyenyak sedari tadi. Dia entah mengapa masih terus merasa gelisah. Dia melirik laci nakasnya, apa harus neminum obat gitu lagi, pikirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With My Lecturer [republished ]
Teen FictionDi dunia ini yang paling menyebalkan bagi Shella adalah tugas. Apalagi dengan dosennya yang sangat menyebalkan. Shella rasanya ingin menhilang saja. "Rashella Anindya! Kamu bisa belajar lebih serius? Mau jadi apa kamu ini?" "Istri bapak hehe," "M...
![Life With My Lecturer [republished ]](https://img.wattpad.com/cover/293645511-64-k99627.jpg)