empat puluh lima

578 15 0
                                        

Udara kamar masih hangat oleh sisa-sisa keintiman yang baru saja terjadi. Di bawah selimut yang kusut, Shella menarik napas pelan, pipinya bersemu merah meski ini bukan pertama kalinya.

Steffan, masih membisikkan beberapa kali terimakasih dengan gerakan kecil, mengecup lembut bahu istrinya-lama sekali dengan penuh rasa. Shella menggigit bibir, malu-malu menoleh, dan mendapati mata suaminya menatapnya dengan cara yang membuat jantungnya kembali berdebar. Meski tubuh mereka telah lama saling mengenal, ada bagian dari hatinya yang selalu baru untuk lelaki itu.

"Shel,"

"Hm," jawab Shella.

"Balik sini," kata Steffan.

"Malu, ah," jawab Shella pelan.

Steffan terkekeh. "Udah sering padahal, kenapa masih malu?"

Shella akhirnya berbalik. Dia melihat Steffan yang terus menatapnya. "Apa?"

"Kamu cantik," jawab Steffan.

"Tau,"

"Beda, kamu kalo lagi kayak gini aura bocil kematiannya ilang gak tau kemana," jawab Steffan.

"Iihhhhh,"

"Serius, cantik banget. Rambut acak-acakan gini, apalagi kalo tadi liat dari bawah pas kamu yang diatas-aduh,"

Steffan meringis ketika Shella mencubit perutnya.

"Berisik! Tidur sana!"

...

Cahaya matahari menembus lembut dari sela tirai, menyapu permukaan ranjang dengan kehangatan yang tenang. Shella sudah terjaga sejak beberapa menit lalu, matanya menatap langit-langit sambil membiarkan pikirannya melayang.

Saat melirik ke samping, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Pelan, ia menoleh dan melihat Steffan masih tertidur lelap di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya tenang seperti anak kecil yang sedang bermimpi indah.

Shella tersenyum kecil, membiarkan matanya menelusuri garis rahang suaminya. Beberapa menit kemudian, Steffan menggeliat pelan, membuka mata sambil mengerjapkan pandangan, lalu tersenyum begitu melihat Shella. "Pagi, cantik," gumamnya serak.

Shella terkekeh pelan. "Pagi menjelang siang, tau!"

Tanpa banyak kata, ia menarik Shella mendekat, mengecup keningnya lalu berbisik sambil tertawa kecil. "Mandi bareng yuk."

Shella mendesah pendek, pura-pura protes, tapi tak menolak saat Steffan menarik tangannya menuju kamar mandi. Dan pagi itu, kehangatan kembali menyatu di antara dua tubuh yang tak pernah lelah saling menemukan satu sama lain

....

Siang harinya mereka memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar hotel.

"Shel, duduk dulu disana,"

Shella menurut, mereka duduk di sebuah kursi yang ada di pinggir jalan. Untung saja siang ini tidak terlalu ramai.

"Pak,"

"Shel,"

Mereka saling memandang ketika memanggil bersamaan.

"Kamu dulu," kata Steffan.

"Enggak, ah. Bapak dulu,"

Steffan mengangguk. "Kamu mau ada rencana buat nunda anak?"

"Enggak tau, Pak. Saya masih agak takut sebenernya," jawab Shella pelan.

"Saya gak keberatan sama sekali kalau misalnya kamu mau nunda, mungkin sampai lulus kuliah, atau misalkan kamu mau nyoba kerja dulu juga boleh," jawab Steffan.

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang