tiga puluh dua

3.2K 261 2
                                        

Steffan menjemput Shella di rumah Dio, sebelumnya ia sudah mencari ke rumah Megan, namun Megan mengatakan jika ia sudah mengantar Shella ke rumah Dio.

Shella memalingkan wajahnya ke arah jendela, Steffan sesekali melirik Shella. Wajahnya terlihat semakin pucat, apalagi Steffan bisa melihat mata Shella yang bengkak karena menangis sangat lama. Namun dia ingin segera menyelesaikan masalah ini.

"Kita selesaikan ini di rumah, jangan terus menghindar!" Tegas Steffan.

"Saya cuma tenangin diri," bela Shella tanpa memandang Steffan.

Setelah sampai, Steffan langsung membawa Shella ke kamarnya. Dia harus menjelaskan semuanya.

"Apalagi yang harus dijelasin Pak?" Kata Shella ketika Steffan baru saja menutup pintu kamar.

"Saya dan Senja ga seperti yang kamu pikirkan," Steffan mencoba berbicara lembut.

"Terus? Bapak udah beberapa kali ketemuan sama dia, pelukan sama dia. Apa saya ga berhak marah? Saya statusnya masih istri kan, ya? Gak boleh marah kalau suaminya deket sama mantannya?"

"Saya capek Pak, mau istirahat,"

Steffan menarik Shella ke dalam pelukannya.

"Lepas Pak! Saya ga mau dipeluk bekas Bu Senja!" Shella terus meronta.

"Kamu bisa jangan bawa-bawa dia?"

"Kenapa? Gak suka? Kita kayak gini karena dia. Udah bagus dia di London, kenapa malah pulang sih?"

"Shella, dia pulang karena dia disana ga dianggap keluarganya," bela Steffan.

"Iya, terus aja belain dia. Bapak anggap saya ga sih? Kenapa harus dia terus? Kenapa Bapak ga pernah ngertiin saya? Saya tau Bapak terpaksa menikah sama saya, tapi apa bisa hargain saya sedikit aja?" Tanya shella sambil terisak.

"Jangan kekanak-kanakan Shella!"

Emosi Shella meningkat saat mendengar omongan Steffan. "Iya, saya emang kekanak-kanakan, mau apa? Cerai?"

"Cukup Shella!" Bentak Steffan.

"Semudah itu kamu bilang cerai? Pernikahan bukan permainan."

"Saya mau pulang! Saya ga mau liat Bapak!" Shella hendak keluar kamarnya, namun ditahan oleh Steffan. Dia memeluk Shella dari belakang.

Namun Steffan malah semakin mengeratkan pelukannya.

"Maaf, Shella."

Shella meringis saat merasakan keram di perutnya, ia tak sengaja mencengkram tangan Steffan. Bibirnya bergetar saat merasakan perut dan pinggangnya seperti ditusuk-tusuk. Dia hampir jatuh jika Steffan tidak memelukny.

"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Steffan khawatir saat melihat raut wajah kesakitan Shella.

"Sakit banget," rintih Shella.

Steffan menggendong Shella menuju kasur, dia langsung membaringkan Shella dan duduk di sebelahnya. Tangannya mengusap perut Shella.

"Atur nafas kamu pelan-pelan," ini bukan pertama kalinya Shella merasa keram seperti ini. Jadi Steffan tau cara penanganannya karena diberitahukan oleh Dokter kandungan Shella.

Shella mengikuti intruksi Steffan, dia menetralkan emosinya sambil memejamkan matanya. Dia mengatur napasnya pelan-pelan.

"Saya tidur di luar, kamu ga mau liat saya kan? Kalau butuh sesuatu panggil saya,"

Steffan mengusap kepala Shella, lalu keluar dari kamar. Mungkin Shella membutuhkan waktu sendiri malam ini, pikir Steffan.


Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang