tiga puluh tujuh

3.5K 275 4
                                        

Steffan memijat kepalanya yang terasa pusing, ia menyandarkan tubuhnya untuk menjernihkan pikirannya. Kepalanya terasa sangat berat sekali. Sesekali dia menghela napas lelah.

"Steffan,"

"Kenapa?"

"Lo harus pulang, istirahat. Muka lo keliatan capek banget, sana pulang dulu." Ujar Chandra.

"Gak apa-apa,"

"Steffan!" Tegur Chandra.

"Banyak kerjaan, nanti pasti bakal pulang." Balas Steffan tanpa memandang Chandra, dia hanya fokus dengan laptop di depannya.

"Bener kan? Lo langsung ke rumah? Ga ke kantor dulu?" Tanya Chandra memastikan. Masalahnya, setelah pulang mengajar dari kampus, Steffan langsung menuju kantor untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya. Kadang setelah ke kantor ia langsung mengajar kembali tanpa beristirahat.

"Iya,"

"Awas kalo bohong!"

🌱

"Steffan, udah hampir empat bulan lo gini terus. Lo terlalu gila kerja, lo harus istirahat!"

Steffan hanya memandangnys sekilas, lalu melanjutkan kembali berkutat di laptopnya. Dia tidak memperdulikan Bisma -sepupunya yang mengomel.

"Lo denger gue ga sih?!" Lama-lama Bisma emosi dengan Steffan.

"Hm,"

"Pulang Steffano! Gue ga mau dituduh nyuruh lo kerja rodi ya! Sana pulang!" Bisma mencoba menarik Steffan agar berdiri.

"Sedikit lagi,"

"Sedikit endasmu, tiap hari bilang sedikit tapi selesai tengah malem. Plis lah, lo bosen idup apa gimana? Lo terlalu forsir diri lo sendiri. Habis ngajar lo langsung kesini. Gue ga perlu bantuan, gue bisa sendiri!" Omel Bisma.

"Gue gak apa-apa,"

"Pulang atau gue seret lo?"

Steffan menggeleng pelan. "Kalo gue pulang, gue inget Shella. Inget dia nangis kesakitan, inget dia waktu depresi kehilangan bayinya,"

"Steffan, udah ya. Istirahat dulu, jangan terlalu keras sama diri lo sendiri." Bisma mengusap pundak Steffan.

🌱

"Steffan, sini,"

Steffan menghampiri Ibunya di ruang tamu, ia duduk di samping Vina.

Vina memeluk anaknya itu, dia mengusap punggungnya. Tidak tega melihat Steffan yang terpuruk seperti ini. Keadaan putranya sangat kacau.

Steffan menahan isakannya, dia memeluk erat wanita yang sudah melahirkannya itu. Dia menetralkan napasnya yang akhir ini memang sering sesak.

"Nangis aja, gapapa. Mamah disini," ujar Vina dengan pelan.

Saat itu juga Steffan menumpahkan tangisannya, Vina mengusap rambut Steffan dengan lembut. Steffan menangis tergugu.

"Semarah atau sekecewa apapun Mamah, kamu tetap anak Mamah. Mamah sayang sama kamu," kata Vina.

"Mamah marah, kenapa kamu bisa nyakitin Shella sedalam itu? Dia punya salah apa sama kamu hm? Shella itu anak baik," Vina menghela nafasnya.

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang