tiga puluh tiga

3.3K 261 4
                                        

Sudah beberapa hari hubungan Shella dan Steffan tidak membaik. Mereka hanya berbicara seperlunya saja. Shella juga memberikan waktu sendiri untuk Steffan menenangkan pikirannya. Karena dia tau jika suaminya itu masih merasa marah dan kecewa.

Rafka ikut tinggal bersama David di apartemennya. Di rumah semakin terasa sepi. Vina juga sedang ke luar kota untuk bisnisnya.

Hari Shella akan pergi ke apotek untuk membeli vitamin. Dia berangkat menggunakan taksi online karena Steffan belum pulang mengajar. Steffan melarang dia pergi ke kampus dan menyuruh Shella istirahat di rumah. Namun Shella merasa baik-baik saja dan bosan jika hanya diam di rumah.

Setelah membeli beberapa vitamin dan suplemen untuk kehamilanya dia memutuskan untuk ke cafe terlebih dahulu.

Ia menginginkan bubble tea dan cake stroberi. Tadinya ingin meminta Steffan membawakannya, namun ia merasa tidak enak. Hubungan mereka belum membaik membuat Shella ragu untuk meminta sesuatu.

"Shella?"

Shella yang awalnya sedang menikmati makanannya menoleh ke samping dan melihat David berdiri di sana.

"Pak David,"

"Kamu sendirian? Boleh saya duduk?" Tanya David.

"Oh, boleh pak, duduk aja. Saya juga sendirian kok,"

"Saya mau ngobrol sama kamu, boleh?"

Shella hanya mengangguk membalasnya. Dia melihat beberapa perban di wajah David, Shella merasa bersalah.

"Pak, maafin Pak Steffan ya, dia udah bikin Bapak sampai masuk rumah sakit," ujar Shella.

"Gapapa, saya juga ngerti kok. Salah saya juga, saya pantes dapet itu," David menghela nafas pelan.

"Kalau boleh tau, memang Steffan itu siapa kamu?" Tanya David.

"Hmm ...  sebenernya, Pak Steffan itu suami saya,"

Mendengar jawaban Shella, David membelalak kaget. Dia menatap Shella meminta penjelasan lebih. Dia tidak percaya sekaligus sangat terkejut mendengar itu semua.

"Iya, kita udah nikah. Dan saya lagi hamil Pak," jawab Shella seraya mengusap perutnya.

"Serius? Saya gak nyangka," David menggelengkan kepalanya.

"Terus, sekarang dia gimana? Kalian hidup bahagia?"

"Pak Steffan masih mencintai masa lalu dia," Shella tersenyum tipis.

"Senja? Sudah saya duga. Dulu mereka emang saling mencintai Shel, bukan setahun dua tahun. Saya tau persis mereka. Bahkan Senja sampai sekarang masih mencintai Steffan, lebih ke obsesi sih," David terkekeh pelan lalu menyesap kopi yang ia bawa.

"Susah emang kalo cinta sama orang yang masih cinta sama masa lalu dia," ucap Shella.

"Saya ngerti, kamu yang sabar ya. Saya yakin suatu saat nanti Steffan akan lebih mencintai kamu," David mengusap rambut Shella.

"Makasih ya pak,"

Steffan datang tiba-tiba dan langsung mencengkram kerah baju David.

"Bajingan! Setelah rebut Senja lo juga mau rebut Shella?!"

"Pak, ini salah faham, saya dan pak David-"

"Diam Shella!"

Steffan mendorong David ke belakang sehingga terjatuh membentur meja lain. Saat ingin menghajarnya kembali, Shella memeluknya dari belakang.

"Jangan, Pak," lirih Shella.

Steffan berbalik ke arah Shella dan memegang kedua bahu wanita itu. Dia menatap tajam Shella yang menunduk takut.

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang