tiga puluh

3.3K 245 4
                                        

"Megan, gue laper banget, deh," keluh Shella sambil memegang perutnya.

"Aduuh, kasian bumil gue, yaudah yuk makan dulu. Ntar kalo lo pingsan laki lo ngamuk sama gue,"

Megan lalu mengajak Shella ke salah satu restoran Jepang. Shella bilang ingin makan ramen. Dengan catatan Megan melarang Shella memakan makanan yang pedas.

Hari ini Shella menemani Megan berbelanja baju untuk lamaran Megan dan Chandra. Sebelum pulang mereka memutuskan untuk makan dulu, setelah makan ramen rencananya mereka akan pergi ke taman kota sore hari untuk membeli jajanan karena Shella bilang ingin itu.

"Serius ya, lo cantik banget pake dress pink tadi. Gue mau pake yang satu warna kaya lo, tapi gak ada muat,"

"Iya, lah, kan perut lo udah keliatan gitu," jawab Megan.

"Gendut ya? Duh pasti gue jelek ya?" Tanya Shella.

"Eh! Enggak ih! Malah lo makin cantik serius. Jangan ngomong gitu ah," kata Megan.

Sejak hamil perasaan Shella menjadi sensitif, bahkan bisa menangis karena hal kecil sekalipun. Pernah ia sampai menangis karena melihat kucing jalanan melewat di depannya.

"Tuh makanannya datang, makan dulu ya."

"Lo udah rencanain pernikahan sama Pak Chandra?" Tanya Shella.

"Nanti malem kayaknya ditentuin kapannya. Sumpah gue deg degan banget. Gue beneran mau nikah ini? Dalam waktu dekat?" Megan memegang dadanya sambil menggeleng pelan.

"Gue juga gk  pernah sekalipun kepikiran buat nikah muda," ujar Shella sambil memainkan sedotan minumannya.

"Gue ngejar Pak Steffan ya karena sebatas suka aja gitu, ga pernah sekalipun kepikiran buat nikah beneran," Shella terkekeh ketika mengingat dulu dia segenit apa pada dosen idaman yang kini menjadi suaminya itu.

"Takdir ga ada yang tau Shel, gue aja dulu rencana nikah kalo udah kerja aja, lulus kuliah gitu. Tapi ya jodohnya udah dateng sekarang, jadi ngapain ditunda," sahut Megan.

"Iya sih, tapi inget ga impian kita dulu. Kita punya rencana buat jalan-jalan ke Korea berdua," kata Shella.

"Inget, tapi masih bisa diwujudin kok, tapi nanti sama suami kita, dan dedek udah lahir ke dunia. Pasti lebih seru,"

Shella tersenyum dan dia mengangguk. Menyetujui ucapan Megan. Menikah ternyata bukan menjadi penghalang.

Samar-samar Shella mendengar suara yang tidak asing dari meja samping. Dia berharap semoga bukan orang yang ada di pikirannya, namun itu salah.

"Kamu mau makan apa Stef?"

"Samakan,"

"Okey, aku pesenin dulu ya."

Saat berbalik, ia melihat Steffan dan Senja berada di sana.

"Shel ..."

Megan mengikuti arah pandang Shella, ia terkejut saat melihat Steffan dan Senja yang sudah duduk disana.

"Shel, itu Bu Senja?"

Shella mengangguk. "Iya, dia udah pulang dari London,"

"Duh kok gue khawatir ya. Kurang ajar banget mereka ketemuan kayak gini. Ga mikirin perasaan lo atau gimana?" Dumal Megan.

"Udah berapa bulan ya kita ga ketemu? Kok kamu makin ganteng sih?" Ujar Senja.

Steffan hanya membalasnya dengan dehaman. Shella bisa melihat Steffan beberapa kali mengetik sesuatu di ponselnya, ternyata dia mengirim Shella pesan jika Steffan sedang ada urusan. Tentu saja pria itu tidak akan jujur jika bertemu dengan mantan kekasihnya itu

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang