[Complete Fantasy Story #1]
Mulanya, Cha Yurim hanya diberi pesan oleh Seo Yeonhwa, sahabatnya. Untuk menjaga buku novel antik kesayangannya. Namun siapa sangka, kalau buku itu akan merubah takdir dan hidupnya.
───
Yurim bukan penggemar karya fantas...
Irene menatapku dengan binar kekaguman yang tak dapat tertutupi oleh kipas tangan miliknya, sementara aku hanya membalasnya dengan kerutan alis, sebuah sinyal jawaban yang terukir jelas di wajahku. Irene memberikan respons yang cukup lucu, ia tampak kikuk, persis seperti Yeonhwa saat sedang kebingungan.
Aku pun melirik kembali ke arah Putra Mahkota yang masih menunggu jawaban lisanku. Setelah sempat menangkap ekspresi syok Elyssa yang menurutku sangat memuaskan, aku akhirnya menyambut uluran tangan Frederick.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kami berjalan bersama menuju pusat area dansa, membiarkan ratusan pasang mata mengikuti setiap langkah kami.
"Beraninya dia! Elyssa, apa kau akan diam saja?!" seru Yuria dengan suara tertahan yang dipenuhi amarah.
Elyssa menatap punggung Ailyn dengan sorot mata yang tak lagi selembut anggrek. "Tentu saja tidak, Yuria," desisnya tajam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat Frederick memanduku membelah kerumunan menuju lantai dansa, aku bisa merasakan hawa membunuh dari arah pinggir aula. Caius, Leon, dan Arion menatap kami, atau lebih tepatnya menatap Frederick seperti tiga singa yang siap mencabik mangsa. Wajah Caius sudah merah padam karena emosi, jika bukan karena tata krama, kurasa dia sudah melempar Frederick keluar jendela. Namun, Frederick bukanlah lawan yang mudah, ia bisa tetap tenang, seolah intimidasi keluarga Erchau hanyalah angin lalu baginya.
Disini banyak sekali orang gila ya...
Lantunan musik klasik mulai memenuhi ruangan. Pasangan-pasangan lain mulai bergerak, begitu pula aku dan Frederick.
Jujur saja, Cha Yurim tidak mengerti cara berdansa gaya bangsawan seperti yang ada di film. Namun, tubuh Ailyn mengingatnya. Seolah memiliki kesadaran sendiri, kakiku bergerak mengikuti irama musik dengan presisi yang menakutkan. Tapi, aku tidak berniat membiarkan Frederick menikmati dansa ini dengan mulus.
Tukk!
Aku menginjak kaki Putra Mahkota dengan ujung sepatu hak tinggiku. Cukup keras untuk membuatnya meringis, tapi cukup tersembunyi agar tidak terlihat orang lain.
"Ups. Maafkan saya, Yang Mulia," ucapku dengan wajah tanpa dosa.
Frederick menatapku tajam, namun bibirnya tetap tersenyum. "Aku tidak menyangka kemampuan berdansa Lady sungguh... penuh kejutan."