01 | Transmigrasi

52.7K 5.2K 121
                                        

Mau dilihat berapa kali pun sudah jelas bahwa tubuh ini, dan wajah cantik ini bukanlah milikku, Cha Yurim. Aku menyentuh, meraba, dan menarik pipi karakter antagonis dari buku novel milik Yeonhwa ini. Berulang kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini semua hanyalah mimpi. Namun, rasa sakit yang nyata serta tekstur kulit yang begitu lembut di jemariku membuktikan sebaliknya. Sungguh fakta ini tak terbantah, meski dibenci ribuan bahkan ratusan ribu pembaca, Ailyn memang luar biasa cantik, persis seperti yang digambarkan dalam novel The Great Princess.

S-Sial... Aku tidak akan mati dengan tragis kan?!

Lalu tubuhku yang asli bagaimana? Apa aku terkena cardiac arrest karena kelelahan?!

Bagaimana dengan Yeonhwa?! Bagaimana dengan

Lupakan.

Aku lupa, aku tak memiliki siapa pun kecuali Yeonhwa.

Saat aku masih tenggelam dalam lamunan, terdengar suara teriakan nyaring yang memecah lamunanku dari luar kamar. Suara itu memanggil nama Ailyn dengan nada cemas, tapi entah mengapa suara itu terdengar familier di telinga ku meski aku bukanlah Ailyn yang asli.

 Suara itu memanggil nama Ailyn dengan nada cemas, tapi entah mengapa suara itu terdengar familier di telinga ku meski aku bukanlah Ailyn yang asli

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Apa yang terjadi pada Lyly?! Buka pintunya! Biarkan aku menemui adikku!"

Pintu kamar terbanting terbuka. Sosok pria tinggi dengan wajah tampan mempesona muncul di ambang pintu. Rambutnya merah menyala, kontras dengan matanya yang berwarna oranye hazel yang berkilau indah. Pria itu menatapku tajam, lalu berlari kecil sebelum akhirnya mendekapku erat dengan tangan yang gemetar.

"Kudengar dari pelayan kau bersikap aneh setelah tenggelam di danau! Apakah ada yang sakit? Mau kupanggilkan dokter Kekaisaran?!" ucap pria itu.

Hah? Tenggelam?!

"Mohon maaf, Tuan Muda. Nona Ailyn baru saja sadar dari pingsannya. Saya harap anda tidak bersikap berlebihan karena akan membuatnya semakin syok," balas salah seorang pelayan dengan kepala tertunduk dalam.

Pria itu menatap lesu ke arah pelayan tersebut. Aku sendiri hanya bisa terdiam, aku tidak mungkin mengatakan apapun karena aku bukanlah Ailyn yang asli. Namun, jika hanya untuk bersandiwara sedikit, rasanya aku masih sanggup. Baru saja aku hendak meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja, Grand Duke dan Grand Duchess Erchau tiba-tiba masuk ke dalam kamar bersama dua pria lainnya.

Tanpa peringatan, Grand Duchess Erchau memelukku sambil terisak cemas. Aku hanya bisa mematung tanpa merespons, merasa asing dengan kasih sayang ini.

"Putriku! Apa ada bagian tubuhmu yang masih terasa sakit?! Jika ada yang tidak nyaman, tolong katakan pada Ayahmu ini!" ucap Grand Duke Erchau dengan nada suara yang berat namun lembut.

"A-Ahh... tidak perlu, aku tidak merasakan sakit apapun kok!" jawabku canggung kepada mereka berdua.

Seluruh orang di ruangan itu menatapku dengan tatapan khawatir. Aku pun memaksakan senyum dan meyakinkan mereka bahwa aku hanya butuh waktu istirahat lebih banyak. Mendengar jawabanku, Grand Duke dan Grand Duchess akhirnya setuju. Mereka memerintahkan semua orang untuk meninggalkan kamar Ailyn, kecuali satu pelayan yang ternyata adalah pelayan pribadi Ailyn, Rivette.

When an Antagonist becomes HeroineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang