25 | Teman baru, tunggangan baru

16.7K 2.2K 61
                                        

Setelah menyelesaikan pertarungan menegangkan yang begitu melelahkan. Aku kehabisan energi sihirku sehingga tidak mampu kembali sendiri menuju kediaman Erchau. Killian menawarkan diri untuk membantuku kembali dengan cara menggendongku. Namun tak kusangka, Cedric kembali muncul dan menyelak ucapan Killian yang ingin menggendongku pulang.

Aku tidak tahu apa yang Cedric inginkan dariku, namun satu hal yang kutahu bahwa dia dan Irene memiliki hubungan, terlebih aku merasakan perasaan familiar darinya. Jadi aku memilih untuk pulang bersamanya.

Cedric menggendongku dengan erat, pundaknya yang lebar memberikan perasaan aman saat aku merangkulnya dengan kedua tanganku. Dia melompat dari satu atap ke atap yang lain dengan ringannya, larinya begitu cepat dan halus, seolah dia hanya membawa satu bulu di tubuhnya.

"Anu, bukankah kau seharusnya sudah kembali? Kenapa kau bisa tahu aku ada disana?" tanyaku.

"Entahlah, mungkin ikatan batin?" balas Cedric.

"Ikatan batin apanya?! Memangnya kau ibuku? Kau menguntitku ya!"

"Hahaha, bukan ibumu. Namun ayah dari anak-anakmu nanti lady. Satu lagi, aku tidak menguntitmu lady."

Wajahku memerah saat mendengar godaannya yang menggelikan itu. Namun entah kenapa, aku senang mendengar perkataannya tersebut.

"Anakmu apa?! Jangan berbicara yang tidak-tidak! Dan lagi, bukankah cara bicaramu terlalu kasual kepadaku?" Aku memukul kepala Cedric dengan kepalan tanganku. Sedangkan Cedric hanya tertawa mendengar ucapanku.

"Hahaha maafkan saya bila anda tidak suka cara bicara saya, tapi sebaiknya anda merangkul saya lebih kuat. Karena setelah ini saya akan melompat lebih tinggi."

Wajahku masih memerah, aku menguatkan rangkulanku pada Cedric. Dan benar saja, dia melompat begitu tinggi sehingga rasanya seperti sedang terbang. Malam ini tidak ada awan yang menghalangi, sehingga aku dapat melihat dengan jelas bulan purnama diatas langit yang bertabur bintang itu. Bahkan aku dengan leluasa dapat mencium aroma rambutnya yang begitu harum, aroma yang lembut.

Cedric dengan cepat mengantarku kembali ke kamarku. Tanpa berbicara apapun, dia hanya tersenyum lalu menghilang kembali seperti seorang ninja.

"Dasar! Dia senang sekali menghilang seperti ninja. Namun, terima kasih ya."

Fajar pun tiba

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Fajar pun tiba. Aku tidak tahu berapa lama aku berada di luar semalam, karena rasanya tubuhku sakit semua akibat terlalu lelah. Rivette yang melihat kamarku sangat berantakan saat hendak membangunkanku saja sampai syok melihat kondisiku yang sudah tak karuan.

Tapi beruntung, luka gores di pipi ku sudah diobati terlebih dahulu oleh Damian.

"Jadi, nona semalam pergi kemana?"

Dengan kesal, Rivette bertanya padaku sembari merapihkan gaun-gaunku yang berserakan. Aku bergeming tak menjawab pertanyaan Rivette, aku hanya mengatakan padanya untuk tidak memberitahu apa yang dia lihat pada kakak-kakakku dan Grand Duchess.

When an Antagonist becomes HeroineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang