[Complete Fantasy Story #1]
Mulanya, Cha Yurim hanya diberi pesan oleh Seo Yeonhwa, sahabatnya. Untuk menjaga buku novel antik kesayangannya. Namun siapa sangka, kalau buku itu akan merubah takdir dan hidupnya.
───
Yurim bukan penggemar karya fantas...
Aku berjalan sembari merangkul lengan Arion yang kekar, melewati sekumpulan Lady muda yang menatapku dengan sorot mata penuh iri.
Nah, akhirnya kalian iri juga, kan? Dasar cewek-cewek sialan! Beraninya dulu kalian mem-bully dan menghina Ailyn yang asli. Lihat kakakku ini! Otot lengannya sangat kekar, lho. Kurasa perawat-perawat di rumah sakit Korea pun akan berebut ingin menyuntik lengan seksi ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesekali, aku melirik ke arah mereka. Begitu mata kami bertemu, aku langsung melempar senyuman kemenangan yang manis namun mengejek. Arion yang menyadari tatapan kesal para gadis itu, hanya bisa menahan tawa geli.
Pftt, ini baru Lyly kami yang sebenarnya...
Kami terus berjalan menghampiri Grand Duchess yang sedang asyik berbincang dengan Permaisuri Kekaisaran Fraudia, Helenia. Beliau dikenal akan kemurahan hatinya pada rakyatnya. Seorang Permaisuri sempurna yang baik hati, lembut, dan cantik jelita. Sangat kontras dengan putranya, Frederick, yang memiliki karakter bak seorang iblis.
Ibunya sebaik ini, entah dari mana Frederick mendapatkan gen psikopat itu. Jangan-jangan dia anak pungut?
Tapi melihat betapa cantiknya Yang Mulia Permaisuri, harus kuakui bahwa wajah tampan Frederick memang berasal dari ibunya.
"Selamat malam, Yang Mulia Permaisuri. Semoga keabadian dan kebaikan selalu menyertai Anda," sapaku anggun sambil membungkuk hormat.
Permaisuri menoleh dan menyambutku dengan hangat. "Kau benar-benar sudah dewasa, Ailyn. Aku melihat tarianmu dengan Frederick tadi. Kalian berdua sangat memesona," puji Permaisuri.
Sejujurnya agak canggung bagiku mendengar pujian itu, apalagi jika mengingat aku sengaja menginjak kaki putranya berkali-kali. Namun, aku memilih membalasnya dengan senyuman sopan.
Di tengah rasa canggung itu, tiba-tiba Grand Duchess menarikku ke dalam dekapannya. "Ahh, putri kecilku yang manis! Ibu merindukanmu! Apa kau senang dengan pestanya?"
Permaisuri tertawa renyah melihat tingkah manja Grand Duchess padaku. Keduanya pun mulai bernostalgia, menceritakan masa kecil putri mereka masing-masing. Awalnya aku mendengarkan dengan senyum sopan, namun senyumku luntur seketika saat Grand Duchess mulai menceritakan insiden "Ailyn kecil mengompol di atas kasur".
Astaga! Kenapa harus menceritakan aib itu, sih?!
Wajahku terasa panas dan memerah padam. Arion yang ikut mendengarkan hanya bisa memalingkan wajah, namun bahunya yang bergetar jelas menunjukkan dia sedang menahan tawa setengah mati.
Aku memang bukan Ailyn asli, tapi rasa malunya tetap saja menular!
Setelah puas tertawa diam-diam, Arion akhirnya menyelamatkanku. "Ibu, sudah cukup. Sepertinya Ailyn sudah terlalu lelah. Bagaimana kalau kita kembali? Caius juga sepertinya sudah cukup 'kenyang' diomeli Ayah," ucap Arion halus.