18 | Hal yang berbahaya

20.7K 2.5K 25
                                        

Aku berjalan menyusuri hamparan yang luas ini. Aku berlari begitu kencang kedepan, seolah di tempat ini hanya ada aku seorang saja. Kulihat baju yang kukenakan, terasa seperti aku sedang mengenakan pakaian khiton.

Aku ada dimana?

Aku berjalan lurus menyusuri padang rumput yang dipenuhi oleh bunga-bunga kecil. Terdengar kembali suara nyanyian yang sebelumnya kudengar. Itu sangat merdu, hingga rasanya angin berhembus hanya untuk menambah suasana.

La... La... La...
Kedamaian yang kulindungi...
Tanah yang subur, bunga-bunga yang indah...

Semuanya tersenyum ria...
Kuharap selalu, kebahagiaan itu tetap bertahan selamanya...

Aku mencari sumber suara itu. Syair yang begitu menyayat hati, berhasil mencuri perhatianku. Aku terus berlari hingga kulihat sebuah pohon besar yang rindang di depanku. Pohon itu terlihat kokoh dan perkasa, seolah-olah padang rumput yang luas ini tercipta hanya sebagai tempatnya tumbuh. Namun sayangnya, suara itu menghilang sehingga suasananya kembali sunyi.

Kusentuh batang dari pohon itu. Kulitnya terasa halus dan batangnya terlihat sangat kokoh. Dari balik batang pohon besar itu, kulihat ada 2 orang berdiri dari kejauhan, aku tidak dapat melihat wajahnya, namun aku menyadari bahwa mereka berdua tengah mengulurkan tangannya kepadaku.

Siapa itu? Pria? Wanita? Tidak... Itu keduanya...

Aku penasaran siapa kedua orang itu, namun saat aku mencoba untuk mendekatinya... Seketika aku terbangun dari mimpi yang tak aku pahami ini.

Siapa... Itu?

Rivette tengah menyiapkan camilan pagi untukku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rivette tengah menyiapkan camilan pagi untukku. Setelah kembali ke kamar, rupanya aku tertidur begitu lama hingga melewatkan makan malam. Grand Duchess hendak membangunkanku, namun Rivette mengatakan pada Grand Duchess bahwa aku tengah tertidur lelap. Setelah melihat sendiri kalau aku tertidur lelap, beliau jadi enggan membangunkanku. Dan di pagi ini juga, aku menerima surat dari Lexy.

Lady, saya sudah mendapatkan jawaban dari tuan putri. Tuan putri mengatakan bahwa dia menyukai gaun milik anda, beliau mengundang anda datang ke Istana untuk minum teh bersama. Bila anda tertarik, tolong bakar surat ini.

Akhirnya, aku dapat bertemu Putri Charlotte...

"Rivette, tolong bakar surat ini." Rivette mengangguk dan membakar surat dari Lexy dengan segera. Setelah selesai memakan camilan pagi, aku bersiap-siap pergi ke toko milik Damian. Aku harus membuatnya memihakku dengan pasti, sekaligus memberi beberapa kain lagi.

"Apa anda ingin pergi kembali ke toko kain itu, Nona?" tanya Rivette.

"Ya, tolong siapkan kereta kuda, karena aku ingin membeli beberapa kain lagi. Lalu pinta kereta yang cukup besar," jawabku.

When an Antagonist becomes HeroineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang