03 | Semua mata tertuju kearahku

42.7K 4.7K 124
                                        

Sesuai janjinya, Lexy berhasil menyelesaikan gaun itu dalam waktu singkat. Karena rancanganku tidak membutuhkan lapisan petticoat atau farthingale yang rumit, proses menjahitnya pun jauh lebih cepat. Kini, aku hanya perlu mempersiapkan diri. Dengan kemampuan memori mahasiswa kedokteran yang terbiasa menghafal anatomi rumit, menghafal nama-nama bangsawan dan etiket istana bagiku hanyalah camilan ringan.

Malam ini, aku akan menjadi pusat debutante. Pasti.

Para pelayan mulai sibuk melakukan serangkaian perawatan khusus padaku. Jujur saja, aku sedikit syok. Di Korea dulu, aku bukan orang kaya yang bisa facial setiap hari. Tapi perawatan di sini? Sungguh di luar nalar. Jika di dunia asalku menggunakan teknologi canggih, di sini mereka menggunakan sihir! Kulitku terasa selembut sutra dalam sekejap.

Waktu berlalu cepat, dan langit berubah menjadi oranye kemerahan yang cantik. "Bersabar sedikit lagi, Nona! Sebentar lagi selesai," ucap Rivette menyemangati.

Aku hanya tersenyum sampai akhirnya sentuhan terakhir selesai. Begitu aku berdiri dan berjalan menuju cermin besar, seluruh pelayan di ruangan itu terdiam. Ada yang menutup mulut tak percaya, bahkan ada yang menangis kegirangan.

Aku menatap pantulan diriku.

Gila.

Ailyn di depan cermin ini jauh lebih cantik dari idol Korea mana pun. Rambut merahnya bergelombang dengan indah, riasannya tipis namun menonjolkan fitur wajahnya yang tegas dan elegan. Dan gaun itu... gaun pesta rancanganku berpadu sempurna dengan aksesori emas yang melingkar di leher dan lenganku. Aku seperti melihat lukisan terbaik yang pernah dibuat Leonardo da Vinci.

"Huahhh!! Nona Ailyn sungguh cantik!!" seru mereka serempak.

"Tentu saja! Nona kita kan Mawar Merah Kekaisaran!" sahut Rivette bangga.

Aku tertawa kecil melihat tingkah mereka.

Andaikan di dunia nyata aku memiliki teman setulus mereka...

Tawaku terhenti saat pintu kamarku diketuk. Kupinta Rivette untuk memeriksa siapa yang mengunjungiku, dan tak kusangka ketiga kakakku muncul untuk menjemput.

"Lyly! Apa kau sudah siap?" seru Caius.

Aku berbalik saat seruan Caius menggema keseluruh ruangan. Begitu menoleh kearah mereka, giliranku yang ingin berteriak. Sekeluarga ini makan apa, sih? Arion, Leon, dan Caius terlihat seperti pangeran yang keluar dari layar bioskop. Sangat tampan hingga rasanya tidak nyata.

"Selamat malam, Kakak-kakakku. Apa kalian sudah siap?" tanyaku sambil tersenyum manis.

Ketiganya membeku. Wajah mereka memerah seketika. Arion yang biasanya tsundere bahkan sampai memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan telinganya yang memerah.

"W-Wuahhh, Lyly! Kau... kau sangat cantik! Pusat perhatian pasti akan tertuju padamu malam ini!" seru Caius heboh. Arion tidak banyak bicara, tapi ia langsung mengulurkan tangannya dengan tegas, mengajakku berangkat.

"Ayo kita pergi, Lyly."

"Hey Kak Arion, bagaimana penampilanku malam ini?" ucapku dengan nada usil.

"..."

Mendengar pertanyaan usilku, Arion pun terdiam sejenak. Tak hanya aku yang ingin mendengar jawaban si sulung yang tsundere, Leon dan Caius pun ingin mendengar pujian yang akan Arion lontarkan.

"Cantik."

"Kau sangat cantik, Mawar Keluarga Erchau," ucap Arion dengan lembut.

"Kau sangat cantik, Mawar Keluarga Erchau," ucap Arion dengan lembut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
When an Antagonist becomes HeroineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang