[Complete Fantasy Story #1]
Mulanya, Cha Yurim hanya diberi pesan oleh Seo Yeonhwa, sahabatnya. Untuk menjaga buku novel antik kesayangannya. Namun siapa sangka, kalau buku itu akan merubah takdir dan hidupnya.
───
Yurim bukan penggemar karya fantas...
Caius menggoyangkan tangannya tepat di depan wajahku. Sepertinya aku terlalu lama melamun.
"Arion baru saja memanggilmu untuk datang ke ruangan ibu, kurasa itu sesuatu yang penting."
"Hah?! Aku?!"
Aku spontan berteriak di depan Caius. Dari ekspresiku yang panik, Caius sepertinya mengerti kekhawatiranku. Dia pun berusaha menghiburku dengan kata-kata manisnya.
"Tidak perlu takut, aku akan selalu menjagamu!"
Justru karena aku dijaga olehmu, aku malah semakin takut, bodoh...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bagaimana jika ibu marah kepadaku?"
"Bagaimana itu mungkin? Ibu tidak mungkin marah padamu! Untuk apa dia marah kepadamu?"
Caius terus meyakinkanku bahwa Grand Duchess tidak akan marah. Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa begitu panik dan takut, aku merasa bahwa seharusnya Grand Duchess tidak boleh mengetahui hal ini. Dengan pasrah, aku pun meninggalkan Caius lalu berjalan menuju ruangan Grand Duchess.
Saat aku tiba di depan ruangan, kuketuk pintunya dengan perlahan. Arion membukakan pintu lalu mempersilahkanku masuk. Mataku mulai mengeksplor ruang kerja Grand Duchess Erchau, begitu banyak ornamen mahal dan klasik menghiasi ruangan ini, hingga akhirnya mataku berhenti pada satu titik, yaitu meja kerja. Kulihat Grand Duchess yang terlihat begitu berkarisma, sepertinya beliau sedang sibuk mengerjakan sesuatu karena mejanya dipenuhi kertas-kertas.
"Duduk saja, tidak perlu tegang, Lyly," ucap Arion.
"Aku tidak tegang," balasku.
Aku pun duduk di atas sofa, lalu melirik sedikit ke arah Grand Duchess. Beliau menyadari lirikanku dan menoleh ke arahku.
"Ailyn?"
"Siap!"
Melihat responsku, Grand Duchess menatapku dengan terkejut. Beliau menghela napas lalu menghampiriku.
Kau benar-benar mirip ayahmu, putriku.
Aku memandang Grand Duchess yang kini hanya berjarak satu jengkal dariku, beliau menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang. Bingung harus bersikap seperti apa, aku melirik sedikit ke arah Arion yang berdiri di belakang Grand Duchess. Arion hanya tersenyum melihatku, seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Aku pun menundukkan pandanganku, aku tidak berani menatap Grand Duchess. Entah kenapa, aku merasa takut dan khawatir. Namun Grand Duchess tidak melakukan hal yang kukhawatirkan, beliau justru memelukku dengan erat.
"Kenapa kamu menundukkan pandanganmu, putriku!"
"Aku tidak pernah menyangka bahwa putriku akan menundukkan pandangannya seperti ini!"
Grand Duchess memelukku dengan erat. Pelukannya terasa begitu hangat. Aku bahkan sama sekali tidak merasakan perasaan yang membuatku terintimidasi, justru yang kurasakan adalah perasaan lega.