08 | Sihir yang bangkit

32.4K 4K 65
                                        

Aku sudah siap menuju istana, menghadiri "acara kecil" milik Permaisuri yang sebenarnya tak lebih dari ajang pencarian menantu dan pamer kekuasaan. Saat sedang berjalan menuju kereta kuda, Arion mencegatku dengan wajah masam.

"Haruskah kau hadir dalam acara minum teh itu? Kurasa kau tak perlu pergi," tanya Arion dengan tatapan khawatir yang tak bisa disembunyikan.

"Akan sangat tidak sopan bagiku menolak undangan langsung dari Yang Mulia Permaisuri, Kak," balasku tersenyum menenangkan.

Arion menghela napas panjang dan mengusap kepalaku kasar. "Baiklah jika itu maumu. Namun aku ingin kau tetap waspada. Para Lady bangsawan yang iri padamu akan selalu mencari celah untuk mencelakaimu."

Aku tertawa kecil mendengar kekhawatirannya.

Lagipula, jika mereka berani macam-macam denganku, yang akan mereka hadapi bukan hanya aku, tapi seluruh klan Erchau yang gila perang ini.

"Kakak tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja."

Saat aku hendak naik ke kereta, Arion menahanku lagi. Ia merapalkan mantra pelindung yang menyelimuti tubuhku dengan cahaya tipis sebelum menghilang. Tak cukup sampai di situ, ia juga menyerahkan sebuah batu kristal kecil berwarna biru.

"Ini batu pendeteksi ancaman sihir. Jika kau merasa terancam, lemparkan saja batu ini ke tanah. Ia akan memberiku sinyal lokasi bahaya dan menciptakan barrier sihir selama 20 menit."

Aku menerimanya dengan senang hati. "Kakak terlalu protektif, tapi terima kasih."

Arion tersenyum kecil lalu berbalik pergi. Aku cukup terkejut; itu pertama kalinya aku melihat senyum setulus itu di wajah kakunya.

"Lihat sifat tsundere-nya itu... Jika dia bukan kakakku, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya," gumamku sambil terkekeh pelan.

Perjalanan menuju istana lumayan memakan waktu, namun aku cukup menikmati pemandangan ibu kota yang maju. Dunia sihir ini ternyata cukup modern dengan caranya sendiri. Aku jadi membayangkan, bagaimana jika mereka tiba-tiba menciptakan mobil tenaga mana?

Sesampainya di gerbang istana, kulihat deretan kereta kuda mewah sudah berjejer. Rupanya, persaingan kekuasaan sudah dimulai bahkan sebelum masuk ke area pesta.

"Silakan, Lady Ailyn."

Aku turun dengan bantuan pengawal. Kehadiranku langsung menarik perhatian. Beberapa Lady memberi salam sopan, namun lebih banyak lagi yang menatap sinis, seolah aku adalah wabah penyakit yang datang tanpa diundang.

"Selamat siang, Lady Erchau dan para Lady terhormat lainnya. Mari saya antar menuju taman Yang Mulia Permaisuri."

Kami dipandu menuju taman istana yang megah. Ekor mataku menangkap sosok familiar, Putri keluarga Count Edgerton dan Dalwin juga hadir. Itu berarti Irene dan musuh bebuyutanku ada di sini.

Saat menyusuri jalan setapak, pandanganku terpaku pada sesosok pria yang sedang mengobrol dengan para pelayan. Rambut pirang, postur tegap, dan... mata ungu itu.

Mata itu... persis seperti pria ninja di balkon malam itu!

Pria itu menyadari tatapanku. Mata ungunya yang berkilau seperti permata amethyst menatap lurus ke arahku. Ia tersenyum ramah, namun aku hanya membalasnya dengan tatapan datar dan segera berlalu.

 Ia tersenyum ramah, namun aku hanya membalasnya dengan tatapan datar dan segera berlalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
When an Antagonist becomes HeroineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang