02 | Persiapan

42.6K 4.8K 83
                                        

"Apa maksudmu, Lyly?! Kau baru saja sadar setelah hampir mati tenggelam, dan sekarang ingin pergi ke pesta debutante? Kau sadar itu hanya akal-akalan Pangeran sialan itu, kan?!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Apa maksudmu, Lyly?! Kau baru saja sadar setelah hampir mati tenggelam, dan sekarang ingin pergi ke pesta debutante? Kau sadar itu hanya akal-akalan Pangeran sialan itu, kan?!"

Suara Caius menggelegar, memenuhi ruang kerja Grand Duke dengan emosi yang meledak-ledak. Aku tidak menyalahkannya. Memang benar, Putra Mahkota adalah bajingan manipulatif yang di novel aslinya memenggal seluruh keluarga Erchau hanya karena fitnah murahan. Tapi, aku tidak punya pilihan. Aku harus masuk ke kandang singa untuk menjinakkan mereka.

"Apa yang dikatakan Caius benar, Putriku. Sebaiknya kau fokus pemulihan saja," tambah Grand Duke, menatapku dengan sorot mata ragu yang penuh kasih sayang.

"Cih! Memang apa bagusnya Pangeran idiot itu? Wajahnya saja tidak setampan aku," celetuk Leon santai sambil menyisir rambutnya dengan jari.

Aku terdiam sejenak. 

Wah, narsis sekali manusia ini. 

Tapi harus kuakui, makian mereka benar adanya.

Karena argumen logis tidak akan mempan pada family-complex ini, aku memutuskan menggunakan jurus andalan drama sejarah yang sering kutonton. Aku menarik ujung gaunku, menunduk sedikit, dan memasang wajah paling memelas yang bisa kubuat.

"Kumohon, Ayah... Aku ingin sekali menghadiri pesta itu. Aku sudah menantikannya seumur hidupku," ucapku dengan suara bergetar yang dibuat-buat.

Pertahanan Grand Duke runtuh seketika. Pria paruh baya yang gagah itu menghela napas panjang, tidak tega menolak permintaan putri kesayangannya.

"Baiklah. Kau boleh pergi," putus Grand Duke berat hati. "Tapi dengan satu syarat, Caius akan ikut menemanimu."

Apa?!

Mataku membelalak. Kalau Caius ikut, rencanaku bisa berantakan! Bukan hanya dia akan menjadi "satpam" yang menyebalkan, tapi pesonanya juga akan membuat para wanita di istana mengerubungi kami seperti semut melihat gula. Itu akan menarik perhatian yang tidak perlu. Tapi... jika aku menolak sekarang, mereka akan curiga.

"Woah, ide bagus, Ayah! Tenang saja, aku akan menjaga Lyly dari lalat-lalat jantan di sana!" seru Caius penuh percaya diri sambil membusungkan dada.

Aku melirik kakak ketigaku itu.

Yah, sudahlah. Daripada dikurung di kamar, mending bawa satu 'bodyguard' berisik ini.

Setelah "drama keluarga" ini selesai, aku segera pamit untuk mempersiapkan diri. Grand Duchess tersenyum hangat lalu mencium keningku sebelum membiarkanku pergi, sementara Rivette—pelayan setiaku—menunggu di luar dengan wajah cemas.

"Nona! Bagaimana hasilnya? Tuan mengizinkan?" tanya Rivette antusias sambil menggenggam tanganku.

Aku mengangguk pelan, senyum kemenangan terukir di bibirku. Rivette langsung bersorak gembira. Jujur saja, melihat senyum tulusnya, aku jadi teringat Yeonhwa, sahabatku di Korea.

When an Antagonist becomes HeroineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang