Setelah pembicaraan mengenai status Farel, Anye dan Arsen baru mengobrol lagi sore ini. Anye menghampiri Arsen yang sedang mengurus pekerjaan melalui ponsel —masih setia di depan ruang rawat tentunya— dan mengajaknya ke kantin rumah sakit. Sengaja Anye memilih meja paling ujung dan jauh dari keramaian.
"Makasih, Mbak," ujar Anye pada pramusaji yang baru saja meletakkan pesanan mereka.
"Ara masih muntah-muntah?"
Anye menatap Arsen. Pria itu pasti berkali-kali menilik ke kamar sampai tahu keadaan Ara.
"Mas," panggil Anye pelan.
Tangan kanan Anye mengusap benda yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Perempuan itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya melepas benda itu. Diletakkannya cincin pernikahan yang bertahun-tahun ia pakai di meja.
"Nye?"
Alis Arsen bertaut menatap heran cincin itu.
"Aku ngajak kamu ke sini karena mau ngomong ini. Aku... mau minta pisah dari kamu."
Kalimat Anye membuat Arsen terdiam. Ditatapnya Anye yang sekarang menunduk. Ada rasa kecewa dan marah yang dirasakan Arsen.
"Pisah? Cerai?"
"Iya."
"Aku... Aku nggak ngerti." Arsen menyugar rambutnya. "Kenapa, Nye? Kenapa harus minta pisah? Apa karena udah ketemu sama orang tua kandung kamu jadi kamu mau ninggalin aku?"
"Bukan, tapi karena aku ngerasa nggak punya keperluan lagi buat tetap menikah sama kamu. Bahkan kalau aku nggak ketemu sama Farel, aku tetap akan minta pisah dari kamu."
"Tapi kenapa, Nye?"
"Karena Ara! Apa kurang jelas?"
"Kamu mau misahin Ara dari ayahnya?"
"Kamu yang ngejauh duluan. Aku nikah sama kamu karena kamu selalu nakutin aku, Mas. Kamu selalu bahas tentang aku yang nggak punya orang tua, terus Ara yang mungkin nggak terjamin kalau nggak punya ayah. Tapi nyatanya? Bahkan aku nikah sama kamu nggak bikin Ara ngerasain sosok ayah..."
"Aku selalu ada di sini..."
"Nggak!" ujar Anye sedikit keras untuk memotong ucapan Arsen. "Kamu tahu nggak kalau Ara pernah minta supaya jadi anak yatim?"
Arsen menelan ludah. Punggungnya dia hempaskan ke sandaran kursi.
"Kamu selalu nganggap Ara pengganggu. Kamu nggak pernah ngasih afeksi yang cukup buat dia. Ara bahkan takut sama kamu, Mas. Ara harus nunda sarapan biar kamu bisa makan duluan..."
"Aku nggak pernah minta kamu buat misahin waktu makan Ara."
"Oh, iya, kamu nggak minta, tapi aku nggak mungkin tega lihat Ara makan sama kamu saat kamu sendiri selalu ngelihat Ara pakai tatapan jijik. Kamu cuma lihat Ara jadi beban aja, kan? Aku..."
"Aku nggak kayak gitu..."
"Nggak apa? Selama ini..."
"Aku nggak pernah natap Ara pakai tatapan jijik, aku nggak ngerti maksud..."
"Nggak ngerti karena aku yang ngerasain..."
"Dengerin aku dulu!"
Suara Arsen yang keras membuat Anye terdiam. Beberapa orang tampak menoleh ke meja mereka.
"Aku cuma nggak mau nyakitin kamu sama Ara. Kamu sendiri yang ngejauhin aku sama dia. Kamu ambil keputusan sendiri, terus nyalahin aku. Oke, Anye, aku emang salah. Kalau kamu bahas masa lalu, aku emang salah waktu itu. Tapi aku kayak gitu sama Ara juga awalnya dari kamu. Kamu, kan, yang selalu berusaha nunjukin kalau bisa ngurus Ara sendirian? Pernah kamu minta tolong ke aku? Kamu nggak percaya sama aku..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fam-ily
General FictionAlasan Arsen menikahi Anyelir adalah kehadiran bayi mungil yang masih merah itu. Jika tidak ada dia, mungkin Arsen telah melupakan Anye dan mencari perempuan lain. Namun Arsen lupa bahwa kehadirannya bukan hanya dibutuhkan di mata hukum. Arsen lupa...
