7. Cara Ayah Meminta Maaf

75.7K 6.9K 716
                                        

"Santai kali, Sen. Namanya juga anak kecil. Yang penting, kan, barangnya udah ada sekarang." ujar Dafi.

Arsen baru saja mengantar mainan yang baru dibelinya ke rumah Dafi. Mainan itu telah ia bungkuskan dengan kertas kado. Sebenarnya Dafi tidak meminta ganti, tapi Arsen tetap merasa tidak enak.

"Jangan dikit-dikit marahin Ara, Sen. Ara tuh anak lo, bukan karyawan lo. Lo mau dia jadi benci sama lo?"

Ditatap tajam oleh Dafi, Arsen langsung gugup. Dafi itu memang terlihat periang dan tidak mudah marah. Tapi sekalinya marah, Arsen sampai tidak berani melawan.

"Tadi gue nggak sengaja. Lagian nggak gue marahin, kok. Gue cuma ngasih tau kalau lain kali nggak boleh buka barang yang bukan punya dia."

"Ck! Nggak yakin gue. Lo tuh belajar dong ngatur emosi. Lo udah jadi bapak, Sen."

"Iya, Daf, gue tahu. Ya udah gue pulang dulu."

Arsen pamit mengingat hari telah mulai petang. Dia ingin segera pulang hari ini. Membeli mainan untuk anak kecil ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Arsen berusaha mencari yang paling mirip dengan yang dibeli Dafi, namun tetap saja dia bingung. Mainan anak-anak banyak sekali macamnya. Arsen yang tidak pernah membeli barang-barang seperti itu mana paham.

Sampai di rumah, Arsen mendapati lampu-lampu rumah telah dimatikan kecuali dua kamar di atas. Dari jendela luar, dia dapat melihat lendaran cahaya dari sana. Itu berarti Ara dan Anye belum tidur.

Arsen sengaja menaiki tangga dengan pelan untuk jaga-jaga jika ternyata Ara telah terlelap. Saat melihat pintu kamar Ara yang setengah terbuka, entah kenapa Arsen jadi ingin berhenti di sana.

Terakhir kali Arsen masuk kamar Ara adalah beberapa bulan lalu. Itu pun karena Anye tidak sengaja meninggalkan kunci mobilnya di sana.

"Terus Ara maunya gimana?" Suara Anye terdengar dari sela pintu.

"Ara mau jadi anak yatim aja."

Arsen melebarkan mata saat mendengar ucapan Ara. Maksudnya? Dia ingin Arsen mati?

"Ara nggak boleh gitu, dong. Teman-teman Ara yang nggak punya ayah aja pengin banget punya ayah. Kok Ara malah mau jadi anak yatim?"

"Kalau gitu ganti papa bisa nggak?" tanya Ara dengan nada serius.

"Nggak bisa, Sayang. Papa Arsen kan papanya Ara. Di nama Ara aja ada namanya papa. Nggak bisa diganti, dong."

"Tapi Ara takut sama papa."

"Kan Mama udah bilang dari tadi. Papa marah karena Ara salah. Mama juga sering marah kalau kamu bikin salah. Kamu tahu, kan, kalau ambil barang punya orang itu nggak boleh."

"Soalnya aku kira itu buat aku, Ma. Maaf, ya."

"Kenapa minta maaf lagi ke Mama? Tadi Mama bilang apa? Kalau Ara mau minta maaf yang tulus, minta maafnya ke papa. Kan papa yang dititipin sama om Dafi."

"Nanti kalau Ara dipukul sama papa gimana?"

"Papa pernah mukul kamu?" Suara Anye terdengar terkejut.

Arsen mengernyit. Terkadang Arsen memang tidak bisa mengontrol ucapannya. Ia kerap melayangkan ucapan yang menyakitkan bagi Ara. Tapi sungguh, tidak pernah sekalipun dia menyakiti fisik Ara atau Anye.

"Nggak pernah, sih. Ta... Tapi papa pernah mukul mama, kan? Kalau nanti Ara juga dipukul gimana?"

"Papa nggak pernah mukul mama."

Anye menatap Ara heran. Di sudut memorinya paling terpencil pun, tidak ada ingatan tentang Arsen yang memukulnya.

"Pernah, Ma. Waktu itu aku ke kamar mama buat ditemenin ambil minum. Terus aku denger Mama nangis sama teriak kesakitan. Mama juga bilang 'ampun, ampun', terus minta papa berhenti. Waktu itu papa lagi mukulin mama, kan?"

Fam-ilyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang