33. Papa

61.6K 6.5K 368
                                        

Kondisi Ara membaik sampai mereka tiba di tempat tujuan. Kata salah satu wali murid, mungkin Ara hanya perlu membiasakan diri saja dengan bau bus. Arsen harus berterima kasih pada orang-orang yang membantunya merawat Ara.

"Wah! Kupu-kupunya besar!"

Mata Ara berbinar melihat kupu-kupu dengan sayap besar yang dipajang di balik kaca. Sayap itu memiliki banyak warna dan motif yang belum pernah Ara lihat sebelumnya.

"Papa berani pegang kupu-kupu besar?" tanya Ara pada Arsen. Kepala Ara mendongak agar dapat melihat wajah Arsen.

"Berani," jawab Arsen.

Arsen kemudian menyentuh kaca berisi kupu-kupu tadi dengan telunjuknya.

"Kalau dari luar kaca aja semua berani, Om," ledek Rafa.

Hampir saja Arsen memberi tatapan tajam pada Rafa jika ia tidak mendengar Dafi tergelak. Tatapan tajam itu beralih untuk Dafi.

Rombongan pun melanjutkan perjalanan. Berbagai jenis serangga mereka lihat di museum ini. Ara sendiri sudah melompat kegirangan setiap kali melihat spesies baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Arsen bahkan perlu menahan Ara agar tidak berlari di dalam museum.

"Kapan-kapan kita ke sini lagi seru kali, ya? Tapi sendiri aja bareng istri kita," ujar Dafi kala mereka telah duduk di kafe luar museum.

"Perut istri lo segede itu mau dibawa jalan-jalan?"

"Maksudnya habis istri gue lahiran. Lo nambah anak juga, dong! Kan lucu nanti kita bawa yang gede satu yang kecil satu."

Arsen menjauhkan botol minuman yang baru ditenggaknya. Ia menunduk menutup botol, lalu menggeleng pelan.

"Anye nggak mau nambah anak," ujar Arsen. "Kayaknya," lanjutnya dengan suara lirih.

"Kayaknya? Emang Anye ngomong gimana?"

"Nggak ngomong langsung, sih, cuma kayak selalu ngehindar tiap kali gue ngode soal anak lagi. Bahkan ternyata selama ini dia pasang IUD tanpa sepengetahuan gue." Arsen tersenyum kecut atas ucapannya sendiri.

Dafi mengangguk pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kafe.

"Mungkin lo harus banyak-banyak introspeksi. Lo emang saudara gue, tapi kelakuan lo tuh kadang bikin gue pengin nyubit tahu, nggak."

Arsen berdecak mendengar ucapan Dafi. Memangnya dia anak kecil harus dicubit segala?

"Hati-hati, Rafa! Temennya jangan ditarik!"

Dafi menatap galak pada Rafa. Jika tidak dibegitukan, bisa-bisa Rafa melukai temannya. Arsen pun melirik pada Ara yang sedang berusaha menaiki tangga perosotan.

"Daf," panggil Arsen pelan.

"Hm?"

"Lo pernah selingkuh?"

Dafi terdiam mendengar pertanyaan Arsen. Ditatapnya pria tinggi itu tajam. Sesaat kemudian, Arsen mengaduh karena tulang keringnya ditendang oleh Dafi.

"Lo gila?!" protes Arsen.

"Lo yang gila!"

Dafi berusaha meredam suaranya. Ia beringsut mendekati Arsen dan berbisik pelan.

"Gue tahu lo brengsek, tapi jangan nyelingkuhin Anye juga, bego!" ucap Dafi dengan volume sekecil yang ia bisa, namun tetap dengan intonasi kesal.

"Bukan gue, tapi Anye. Anye yang selingkuh."

Dafi menaikkan satu alisnya. Dia terdiam sejenak sebelum kemudian tergelak.

"Kenapa lo malah ketawa, sih?"

Fam-ilyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang