THR (f)

42.1K 4.3K 156
                                        

Arsen menggulung lengan kemeja dan menghela nafas guna myakinkan diri. Setelah batinnya mantap, dia lalu masuk ke rumah besar yang ditinggalinya hingga kuliah itu. Seorang wanita paruh baya langsung didapati Arsen, ia tengah menata vas di ruang tamu.

"Arsen? Kamu pulang  kok nggak ngabarin mama? Baru kemarin sampai di Indonesia, ya?"

Ibu Arsen menghampiri putranya dan memberi sebuah pelukan. Arsen hanya tersenyum tipis atas perlakuan sang ibunda.

"Udah makan malam? Sekalian makan sama mama sama papa, yuk!"

Arsen mengangguk. Dia kemudian mengekor mamanya ke ruang makan. Ayah Arsen juga baru saja turun. Seperti sang istri, ayah Arsen juga sedikit terkejut akan kehadiran Arsen. Arsen memang anak yang cukup bebas. Setelah tinggal sendiri sejak lulus kuliah, Arsen jarang sekali pulang ke rumah kecuali untuk hari-hari besar. Ayah Arsen bahkan merasa jika mereka lebih banyak bertemu di meja rapat kantor daripada meja makan.

"Jepang gimana, Sen? Aman?" 

"Aman,  Pa. Arsen juga lagi mau nyoba tender baru buat..."

"Sst! Kalian ini di meja makan masih aja ngomongin kerjaan," ujar perempuan paruh baya yang tengah menyendokkan daging ke piring Arsen.

"Papa kan cuma mau ngobrol sama anak papa."

"Obrolan lain emang nggak ada?"

"Obrolan lain contohnya?"

Ibu Arsen menoleh dan tersenyum pada putranya.

"Em... Anak teman arisan mama ada yang baru dilantik jadi dokter. Mama pernah ketemu sekali. Anaknya manis, terus baik juga. Gimana kalau..."

"Arsen ngehamilin anak orang."

Ruang makan yang semula terasa hangat sekejap berubah dingin. Kedua orang tua Arsen bertatapan, lalu hampir berbarengan menatap putra mereka. Keduanya tahu Arsen memang cukup seenaknya sendiri, tapi berhubungan tanpa pengaman?

"Kamu nggak lagi bercanda, kan?" tanya sang ayah yang dijawab Arsen dengan gelengan.

"Udah berapa bulan? Mau kalian pertahanin?"

Arsen melirik ke ibunya.

"Udah... anaknya udah lahir kemarin, Ma. Perempuan."

Ibu Arsen menggeleng pelan, tidak mempercayai apa yang diucapkan anaknya. Ayah arsen sendiri sudah mengeraskan rahang dan menatap tajam pada Arsen.

"Orang tuanya gimana? Mereka udah nemuin kamu? Papa kenal siapa orang tuanya?"

"Nggak, Pa. Anye nggak punya orang tua dan besar di panti asuhan. Dia tinggal sendiri sejak diusir dari panti karena ketahuan hamil. Arsen... Arsen juga baru tahu kalau dia hamil sebulan yang lalu. Kita udah putus dari pas Arsen tunangan sama Yasmin. Anye jauh dari kriteria istri sesuai kemauan mama, jadi Arsen pikir Arsen nggak perlu nemuin dia lagi. Tapi Arsen kemarin nemenin Anye lahiran, anak Arsen... Arsen..."

BUGH!

Arsen tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena ayahnya tiba-tiba bangkit dan melayangkan tinjuan ke pipi Arsen. Bukan hanya sekali, pukulan itu terus berlanjut hingga ibu Arsen berteriak mencoba menghentikan suaminya.

"Papa nggak pernah ngebesarin kamu jadi bajingan kayak gini!"

Ayah Arsen menggenggam kerah Arsen kuat-kuat.

"Kamu biarin perempuan yang hamil anak kamu tinggal sendirian? Gila kamu, Sen!"

BUGH!

Ujung bibir Arsen terasa perih karena ayahnya kembali memberi pukulan.

"Arsen bingung, Pa! Kalian kan yang maksa Arsen buat nikah sama perempuan dari keluarga bernama besar? Kalian yang maksa Arsen buat tunangan sama Yasmin! Anye nggak punya keluarga! Arsen nggak mau lihat dia dihina sama papa sama mama!"

"Papa sama mama emang minta kamu buat nikah sama perempuan baik-baik dan dari keluarga baik-baik, tapi bukan berarti kita bakl ngehina orang lain kayak gitu."

Ayah Arsen menarik kaos Arsen agar ia berdiri.

"Dengar! Papa nggak mau tahu, kamu harus tanggung jawab sama perempuan itu. Gimanapun juga dia udah ngelahirin cucu papa. Sekali kamu punya pikiran buat kabur atau ninggalin dia, papa nggak segan-segan ngehabisin kamu."

***


Fam-ilyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang