°
°
°
°
°
°
Saat ini Minho masih menemani Jisung di kamarnya. Sejak adiknya berganti baju sampai kini sang adik tengah duduk termenung diatas kasurnya, Minho masih setia menemani Jisung.
"Maaf..." Jisung mulai membuka suara kali ini. Terdengar lirih dan begitu pelan untuk Minho.
"Kenapa minta maaf?"
"Harusnya gue dengerin omongan Lo, kak. Harusnya gue gak jatuh ke pengaruhnya Ardian..."
Minho tersenyum tipis, ia usap lembut kepala Jisung. "Gapapa, Lo gak salah disini. Soalnya ini menyangkut perasaan Lo, kan? Gak ada yang bisa di salahin kalo tentang perasaan, Ra."
Sejujurnya Minho ingin marah, tapi disini dirinya pun sama. Ia sudah menaruh rasa percaya kepada Seungmin mengenai adiknya, tapi nyatanya lelaki itu malah ingkar dengan ucapannya.
Kini airmata Jisung kembali menitih, isakan kecil pun kembali terdengar. "Padahal gue dari awal tau, Ardian itu gak pernah bisa serius sama apapun. Tapi begonya gue tetep aja percaya sama omongan halus dia....
Selama ini dia cuman manfaatin gue, dia deketin gue karna Lo, kak. Dia mau jatuhin Lo pake perantara gue. Apa dia pikir perasaan gue mainan? Apa perasaan gue gak ada artinya sama sekali buat dia?"
Minho diam, jujur sakit rasanya ketika melihat sosok yang begitu disayanginya harus tersakiti dan menangis merana karna orang lain.
Ingin rasanya Minho mendatangi Seungmin kali ini juga, melayangkan beberapa Bogeman metah untuk pemuda itu sebagai pembayaran atas luka dan rasa sakit yang di alami adiknya.
"Sakit banget kak.." Jisung mengadu lirih, tangannya ia bawa untuk memukul kecil dadanya. "Gue udah sayang sama dia sejauh ini, tapi kenapa dia ngelakuin itu ke gue? Apa yang salah dari gue, kak? Hiks—kenapa akhirnya harus kayak gini? Ini terlalu sakit kak..."
Minho tak sanggup melihat adiknya menangis begini, maka tanpa pikir panjang Minho segera membawa tubuh kecil Jisung dalam pelukan hangatnya. Mengusap punggung Jisung yang bergetar karna tumpahan tangisannya dengan begitu lembut.
"Udah Ra, Lo gak semestinya nangisin orang kayak Ardian. Lo tau dia udah nyakitin Lo, itu artinya Lo harus lupain dia walopun susah. Kalo Lo terus kejebak sama perasaan Lo, sama aja Lo nyakitin diri Lo sendiri, ra. Lo ngerti?" Ucapnya mencoba menenangkan Isak tangis adiknya.
"Pelan-pelan, Ra. Lo bisa lupain Ardian mulai sekarang..."
Minho sedikit menjauhkan Jisung dari pelukannya, kini tangannya ia bawa untuk menangkup wajah sembab sang adik.
"Jangan nangis lagi, oke? Lo tau kan, kakak Lo ini paling gak suka liat Lo nangis kayak gini? Apa lagi yang bikin nangis Lo orang lain." Minho berucap sembari menatap lekat wajah Jisung yang masih sesegukan itu.
Hingga setelahnya, Minho sedikit memajukan wajahnya mendekati Jisung. Di ciumnya lembut kedua kelopak mata Jisung, mencoba untuk menghentikan aliran air mata yang terus saja terjatuh itu.
"Udah ya? Sekarang Lo tidur, nangis juga butuh tenaga kan? Kalo Lo gak tidur trus nangis Mulu, nanti Lo bisa sakit. Lo mau?"
Jisung menggeleng pelan. Jujur rasanya Minho ingin memekik gemas saat ini juga. Wajah sembab Jisung yang sehabis menangis itu sangat menggemaskan lebih dari apapun. Mirip seorang bayi kecil.
"Sekarang Lo tidur, udah malem. Besok Lo harus sekolah kan?"
"Gue gak mau sekolah besok, gue gak mau ngeliat muka si babi Ardian itu..."
Satu helaan nafas Minho keluarkan. Padahal Jisung masih dalam kondisi bersedih, tapi sempat-sempatnya mengumpat dulu.
"Yaudah, nanti lo gue ijinin buat besok."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect || Seungsung
Fanfiction||Seungmin & Jisung ft. Minho|| "Diantara kita, cuman Lo yang sempurna. Lo terlalu sempurna buat gue yang punya banyak kecacatan." -Guardian Seungmin Antares. Cover by yougi:) [Warn] Bxb! Seungsung area Seungmin X Jisung dom! Seungmin bott! Jisung c...
