10. Drama seminar

110K 8.8K 101
                                        

"Gue bosen bangett, Anj-"

Gadis berambut Curly itu dengan lihai menggambar abstrak dibuku tulis nya. Persetan dengan buku tulis yang rusak karena coretan-coretan kasar tak terbaca itu.

"Ry, Lo mau nggak jadi panitia seminar?" Tanya El tiba-tiba berada didepan nya. Gadis itu menaikan sebelah alis nya, dengan tatapan polos tanpa suara, seolah-olah ingin kembali bertanya, apa?

"Mau ga jadi panitia seminar?" Tanya El sekali lagi.

"Enggak!"

El menghembuskan nafas nya gusar. Bukan sekali dua kali tawaran nya ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Padahal menurut El, Faury cocok jadi panitia atau mungkin sekalian jadi pengisi acara, namun apa daya Faury tidak mau.

"Atau mungkin Lo mau jadi Moderator?" Tawar nya lagi.

El itu tipe ketua yang sangat tegas dan berwibawa, sehingga tidak ada yang berani menentang perintah nya. Tapi sepertinya tidak berlaku untuk anggota seperti Aghiera Faury Ananta.

"Maksa banget si, gue bilang nggak ya enggak!"

El mengusap dada nya sabar, ini resiko jadi ketua kelas harus siap menghadapi sikap dan sifat manusia yang berbeda-beda. Tapi kalau jenis Faury benar-benar langka.

"Ae Lo yang jadi MC, gue sendiri yang jadi moderator. Ayla, Arzan, Ghino, Ardhan, sama yang lainnya jadi panitia."

"Acara nya emang dadakan, tapi gue juga nggak mau tau pokoknya acara nya harus sukses nggak boleh berantakan!" Tegas El pada Aefa yang tengah asik membaca berkas-berkas yang entah itu apa, bersama Arzan dan Ayla.

Gadis berperawakan sedang, pemilik senyuman ramah itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang kosma.

Iya Aefa, sosok manusia yang paling ramah seantaro kampus mereka. Gadis cantik, bertutur bahasa lembut dan berpenampilan sangat sopan itu, sudah berhasil memikat hati banyak pria yang berada disekitar nya. Tak terkecuali itu, Arzan sang kekasih pujaan.

"Okay, El." Sahut Aefa tak lupa dengan senyuman khas nya.

"El, ini acara nya wajib hadir semua?" Tanya Ayla sembari memperhatikan teman-teman sekelasnya yang sudah mulai berkurang.

"Iya wajib, catat aja yang gak dateng. Ntar tinggal gue lapor sama pak Azheff." Sahut El hampir frustasi.

Bagaimana bisa setelah mengetahui habis ini ada acara seminar, bukan nya turut berpartisipasi, masyarakat Anggota kedokteran kelas A itu justru berhamburan pulang ke rumah masing-masing.

Sedangkan Faury yang sedari tadi menunggu Shezy yang entah pergi kemana, hanya mengedikkan bahu nya acuh, dengan pandangan yang tidak terlepas dari ponsel nya.

'Bodo amat lah mereka mau ngapain.'

"Ry, pulang kuy." Ajak Shezy yang entah datang dari mana.

"Zy, sini bantuin kita buat jadi panitia acara seminar ntar siang!" Ujar El setengah berteriak padahal jarak mereka hanya beberapa meter doang.

"Eh, acara seminar apaan?" Tanya gadis itu dengan kening berkerut. Maklum saja, Shezy orang nya memang lupaan.

"Seminar pak Azheff, jaminan nya nilai A+ lho buat yang berpartisipasi dalam acaranya."

Shezy berfikir sejenak, tawaran yang benar-benar menggiurkan. Pak Azheff adalah tipe dosen yang pelit nilai, bahkan nilai UAS mereka seangkatan kemarin bisa dihitung berapa orang yang dikasih nilai yang memuaskan.

"Ry, ayo ikut." Ajak Shezy sangat antusias.

"Ck, tipe mahasiswa Indonesia-"

"Gue bukan mahasiswa yang gila nilai. Bahkan 100 pun, cuma sekedar angka yang nantinya masyarakat juga nggak bakalan nanya." Lanjut nya diakhiri dengan decihan meremehkan.

MAS DOSEN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang