57. Aury beneran mati?

83.7K 6.6K 1.2K
                                        

"A-Aury, Buna minta maaf,"

"Hehee, iya nggak papa kok Bun."

"B-buna udah nyakitin kamu selama ini."

"Santai aja Bun, Aury udah terbiasa kok." Jawabnya sambil tersenyum sangat tulus.

"Aku tau, tidak semua yang aku tuju harus diberikan dengan jalan yang aku mau."

"Seharusnya aku tidak perlu gusar, karena apa yang sudah takdir takar, tidak akan pernah tertukar."

"Disini, aku hanya seorang penyesal yang tidak mampu mengulur waktu. Aku hancur, bersama harap yang tak kunjung berlalu."

"Setelah hari ini, biarkan aku sendiri yang merakum lara, dan menghimpun seleksa ricuh imajinasi asa. Perihal nyata atau fiksi, biarkan saja semesta ku ajak berdiskusi."

"Ini hanya sebuah cerita yang tidak bisa aku beri nyawa. Ini tulisan yang diskenarioi langsung oleh penulisnya. Tapi aku percaya, banyak orang yang merasakan hal yang sama."

"Aku tidak pernah menawar pinta untuk kembali bermimpi, meraih harap untuk kembali menanti. Bahkan aku ingin semuanya mati ditelan bumi.

"Teruntuk perempuan pertama yang aku panggil Buna,"

"Ini aku Aury, Aghiera Faury Ananta. Buna, Tolong sampaikan kata selamat tinggal Aury pada dunia yang tidak pernah sungkan menerima Aury apa adanya."

"Aury pamit-"

"Aury sayang Buna,"

Titttttttt....

"Pasien atas nama Aghiera Faury Ananta, dinyatakan sudah meninggal dunia. Tolong, dicatat waktu dan tanggal kematiannya."

Air mata perempuan itu jatuh tanpa instruksi, keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. Ia bergerak gelisah diatas brankar rumah sakit, bunyi mesin EKG memecahkan indra pendengarannya.

"Pasien atas nama Aghiera Faury Ananta, dinyatakan sudah meninggal dunia." Kalimat itu masih terngiang-ngiang ditelinganya.

Deg!

Tidak, ini tidak mungkin! Ini hanya sekedar mimpi buruk. Tapi memang terasa sangat nyata.

Kenapa penulis cerita ini, sangat kejam sekali?!

"A-Aury..."

Tidak ada yang berani mengeluarkan suara, selain dari perempuan yang masih berbaring lemah diatas kasur ruangannya.

Matanya memanas, bibirnya terkatup rapat-rapat. Ia memandang kasur yang ditiduri anaknya tadi, perempuan pucat pasi itu sudah ditutupi kain putih oleh pihak rumah sakit.

Fanya merangkak turun, dengan slang infus yang memenuhi badannya. Tidak peduli jika darah kembali bercucuran dari perut yang dipeganginya.

"AURYYYY, KAMU TIDAK MUNGKIN NINGGALIN BUNA KAN? MAAFKAN BUNA SAYANG, MAAFKAN BUNA HIKS...." Histeris Fanya mengguncang mayat anaknya.

Tidak ada sahutan sama sekali, namun Fanya tetap menggila. Ia mengabaikan semua rasa sakit yang menyerang tubuhnya secara bersamaan.

"DOKTER, TOLONG PUTRI SAYA. KALIAN JAHAT, MEMBIARKAN DIA MATI BEGITU SAJA!"

Fanya menaiki brankar yang ditiduri Faury itu, lalu memeluk putri semata wayangnya dengan sangat erat. Air matanya bercucuran, bersamaan dengan darah yang terus mengalir dari perut bagian bawahnya.

"Letak sakit kita sama nak, tapi kenapa takdir kita berbeda? Harusnya Buna saja yang mati." Ujar Fanya Sendu, sembari perhatian luka jahit yang berada diperutnya dan perut Faury secara bergantian.

MAS DOSEN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang