31. Surat Rumah Sakit

118K 8.3K 192
                                        

  Faury mengerutkan keningnya heran, begitu melihat sebuah surat yang masih terlipat sempurna dalam sebuah amplop berwarna putih, lengkap dengan logo rumah sakit ibu kotanya.

Gadis itu memperhatikan benda itu dengan lamat. Seperti sengaja disimpan rapi dalam lemari pakaian suami nya. Tidak mungkin bukan pak Azheff memiliki riwayat sakit parah?

Dengan perlahan ia mengambil surat itu, dan membuka nya hati-hati.

"Anjiinggg! Apa ini?!" Umpat Faury dengan kedua mata yang melotot sempurna.

Tangan nya bergetar hebat, sambil menggenggam erat kertas itu hingga lusuh. sembari berpegang pada ujung meja rias, gadis itu membekap mulut nya menggunakan sebelah tangannya lagi.

"Waitt, ma-maksud nya g-gue keguguran?"

Refleks gadis itu memegang perut nya yang memang rata. Kedua mata nya berkaca-kaca, perasaan nya kacau amburadul antara haru, marah atau kecewa.

Dikesempatan pertama saja ia sudah gagal, apalagi dikesempatan kedua, ketiga dan seterusnya.

Faury menggeleng bodoh, "nggak, nggak mungkin gue pernah hamil! T-tapi ini surat siapa?" Monolog Faury.

Namun beberapa saat setelah itu ia merutuki kebodohan nya sendiri, jelas-jelas disurat itu tertera nama nya dengan lengkap, serta hari dan tanggal yang terbubuh sempurna disana.

"G-gue nggak-"

Faury kesulitan mengatur nafasnya yang tiba-tiba saja sesak, ia menguatkan diri untuk berjalan kembali keranjang dan merebahkan diri nya dengan acak.

Pasal nya, tadi pagi pak Azheff melarang Faury untuk pergi kekampus dan menyuruh nya untuk beristirahat dulu dirumah. Sedangkan pria itu sendiri lagi berada dikantor, katanya ada meeting penting.

Faury segara mengambil ponsel nya dan mencari-cari kontak sang suami untuk dihubungi. Ia harus menanyakan pasti nya pada pak Azheff.

"Hallo," Ujar pak Azheff dibalik sambungan telepon nya.

Laki-laki itu sedang berada di ruangan meeting, namun karena tiba-tiba dilayar ponsel nya muncul nama sang istri, ia langsung izin keluar begitu saja.

"M-mas,"

Ia mengangkat kedua sudut bibirnya, setelah mendengar suara Faury. Ah ia jadi rindu perempuan itu. Pasal nya tadi ia berangkat kerja, sebelum Faury bangun dari tidur nya.

Karena ada meeting dadakan, jadi ia harus meninggalkan sang istri yang lagi sakit itu sendirian.

"Iya sayang, kenapa hm?" Tanya pak Azheff sangat lembut.

Hening, sama sekali tidak ada jawaban, yang terdengar hanya lah suara helaan dan tarikan nafas seorang perempuan yang berulang  tidak beraturan.

Pak Azheff mulai khawatir, ia melirik layar ponselnya, memastikan panggilan itu masih tersambung.

"Ry, Aury..." Panggil nya terkesan sangat khawatir.

"Ada apa sayang? Ka-"

"M-mas, i-ini apaa?" Tanya perempuan itu terdengar lirih, serak dan tertahan.

"Hah? Maksud kamu gimana?"

"A-aku, Arghhhh!"

"AURY, KENAPA SAYANG? TUNGGU SEBENTAR, MAS LANGSUNG PULANG." Sahut pak Azheff sambil berjalan tergesa-gesa menuju ruangan nya.

Laki-laki itu langsung meninggalkan ruangan rapat begitu saja. Pikiran nya dipenuhi dengan Faury, takut terjadi sesuatu yang buruk pada perempuan nya.

"Ghean, kebetulan ketemu kamu disini. Gimana keadan Faury, papa sama Mama belum sempat jenguk kerumah kalian." Sapa Kenan yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan nya.

MAS DOSEN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang