55. Welcome baby A

104K 7.6K 1.2K
                                        

"Istri bapak cuma pingsan," ujar dokter itu sambil tersenyum manis.

Pak Azheff menghela nafasnya lega, ia mengucapkan syukur berkali-kali dalam hatinya. Tidak terbayang bagaimana nasibnya, kalau Faury benar-benar pergi dari hidupnya.

"Makasih, Ayy." Tutur laki-laki itu sambil mengecup kening istrinya penuh kasih sayang.

Dipandanginya sepasang bayi mungil yang tengah terlelap dalam box bayi rumah sakit itu dengan haru. Yang laki-laki terlihat sangat mirip dengannya, sedangkan yang perempuan lebih identik mirip dengan Faury.

Pak Azheff terkekeh pelan melihat sepasang malaikat kecilnya sama-sama memasukkan jempol kedalam mulut, mungkin saja mereka haus, fikir pak Azheff memang sama sekali tidak mengerti masalah perbayian.

"GHEANN, GIMANA KEADAAN MANTU SAMA CUCU MAMA? FAURY BAIK-BAIK AJA KAN? CUCU MAMA JUGA LAHIR SELAMAT KAN?" Tanya Diara tiba-tiba saja muncul, memberikan pertanyaan secara beruntun.

Pak Azheff mengalihkan perhatiannya, didepan pintu sudah ada Kenan, Diara, Xavier, Reyyan, Amara dan juga Shella.

"Alhamdulillah baik ma. Mereka kembar." Jawab pak Azheff seadanya.

"HA? DEMI APA SIH, SEKALI LAHIR DAPAT DUA? Aaaa, KAMU JAGO JUGA TERNYATA..." Diara mendesak masuk kedalam ruangan bercat putih polos itu.

"Jangan teriak-teriak ma,"

Wanita itu berjingkrak ria, begitu melihat sepasang bayi mungil yang terlihat tengah tidur namun tetap bergerak-gerak pelan didalam sana. "Ah, lucu banget sih cucu Oma." Ujarnya gemas.

"Faury masih belum sadar Zhef?" Tanya laki-laki paruh baya itu.

Xavier mendekat kearah putrinya, memilih mengusap kepala anaknya dengan pelan. Ia tersenyum bangga melihat keberhasilan anaknya melahirkan sepasang bayi kembar, diumur yang masih belum cukup dua puluh tahun.

"Belum pa, sepertinya Aury kehabisan tenaga setelah lahiran tadi."

Xavier menganggukkan kepalanya. Ia menyibak rambut yang menutupi muka putri semata wayangnya, lalu memberikan sebuah kecupan singkat disana.

"Selamat jadi ibu, putri kecil papa." Bisiknya lirih.

"Papa sayang sama kamu, papa bangga sama kamu, apapun kenyataannya Aury tetap anak papa."

Sedangkan Reyyan, menarik tangan Amara untuk mendekat kearah Faury. Laki-laki itu tersenyum hangat, kemudian mengusap jejak keringat dikening adiknya menggunakan tisu. Ia sama sekali tidak menyangka, adek kecilnya sekarang sudah menjadi seorang mama.

"Jadi ibu yang baik buat ponakan Abang ya, Ry." Tuturnya halus.

Amara juga ikut terharu melihat keharmonisan keluarga suaminya, meskipun bukan dari kalangan orang yang sangat agamis, namun mereka tahu cara menghargai perjuangan seorang perempuan.

"Ra, dia adik aku. Dia anak kecil yang dulu suka jahilin aku pas ketemu sama kamu. Dan sekarang dia udah besar, dia udah jadi ibu. Aku bangga punya adik seperti Aury, aku bangga jadi Abangnya." Ucap Reyyan yang dibalas anggukan kecil oleh Amara.

"Dia hebatkan, Ra?"

"Iya mas Rey. Dari dulu aku juga tau siapa Aury. Dia hebat, dia pinter, dia mandiri dan aku juga sayang sama Aury seperti sayang sama adik kandung aku sendiri." Jawab Amara bener adanya.

Reyyan tersenyum tulus, hatinya menghangat mendengar penuturan Amara, dan rasa ini yang tidak pernah didapatkannya selama bersama Alice dulu.

"Nama mereka siapa? Biar papa siapkan warisan untuk mereka dari sekarang!"

MAS DOSEN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang