30. Praktek Malam

134K 8.2K 699
                                        

"Maaf pak, janin yang dirahim istri bapak tidak bisa kami selamatkan."

Deg!

"Ma-maksud bapak dokter istri saya hamil?" Tanya pak Azheff dengan suara yang sangat bergetar.

"Lebih tepatnya keguguran. Selain karena benturan keras dibagian perut pasien, pasien sepertinya juga mengalami stress dan kelelahan dimasa kehamilan yang terbilang masih sangat muda. Mungkin saja karena banyak fikiran, atau bisa jadi karena melakukan pekerjaan yang berat-"

" Kandungan trimester awal memang sangat rentan sekali keguguran." Jelas laki-laki paruh baya itu panjang lebar.

Pak Azheff linglung seketika, sebagian kesadaran nya hilang tertelan pahit nya kenyataan.

Ingin marah, tapi marah pada siapa?

Laki-laki itu tertunduk lesu di ruangan tunggu pasien, menatap nanar pada lantai keramik yang tak bersuara.

Ah, rasanya pak Azheff ingin sekali berteriak sekencangnya menyalahkan diri nya sendiri.

Andai saja tadi ia tidak memarahi dan membentak istri nya, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.

Andai saja ia bisa sedikit lebih perhatian pada istri nya, mengetahui dengan cepat kehadiran buah hati mereka, pasti calon bayi masih akan tetap bertahan hidup didalam rahim sang ibu sampai sekarang.

Ia menatap istri nya yang masih terlelap dari balik kaca, wajah damai itu terlihat sangat pucat pasi sekali, seperti kurang darah.

"Mas nggak nyangka, sayang." Lirih nya pelan.

Pantas saja, jika akhir-akhir ini Faury sedikit lebih mudah terbawa emosi, jauh berbeda dengan sebelumnya.

Pak Azheff memilih masuk kedalam ruangan istri nya, menghampiri  Fanya dan Xavier yang tengah duduk diatas sofa.

"Apa kata dokter tadi Zheff? Pasti karena Faury telat makan kan? Mag nya jadi kambuh." Tebak Xavier yang belum tau kenyataan yang sesungguhnya.

Pasal nya setelah mereka sampai dirumah sakit tadi, pak Azheff segera menghubungi kedua orang tua istri nya dan memberitahu bahwa anak mereka pingsan dan masuk rumah sakit.

"Aury, anak nya emang keras kepala." Ujar Fanya yang pasti sudah hafal betul, bagaimana keseharian anak perempuan semata wayang nya.

"A-Aury keguguran, pa."

"Hah, g-gimana? Maksud kamu apa?" Tanya Fanya bingung.

"Maafin saya Buna, pa. Saya gagal jagain istri dan calon anak saya sendiri. Semua ini memang salah saya, yang kurang perhatian sama Faury. Hingga nggak sadar, ada calon bayi yang hidup dirahim istri saya sendiri. Saya minta maaf, tolong maafin saya-" Mohon pak Azheff sambil berlutut didepan kedua orang tua itu.

Xavier mengusap pundak mantu nya dengan pelan, lalu menyuruh laki-laki itu untuk bangkit.

"Ini udah takdir Zheff, kalau kita tau Aury lagi hamil kita bakal jaga Aury, lebih baik lagi kan?"

Fanya yang mendengar ucapan suami nya, menundukkan kepala. Apa ini ada sangkut pautnya dengan diri nya?

Wanita paruh baya itu masih ingat, bagaimana ia menjadikan anak nya babu, waktu pindahan Reyyan dan Alice ke Apartemen milik Faury.

MAS DOSEN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang