Makacii buat 1jt pembacanya:)
"Papa sama Abang, mau ngomong apa?" Tanya Faury tanpa basa-basi.
Pasalnya, Xavier dan Reyyan mengajak Faury ketemuan di Caffe dekat kampus. Katanya ada hal penting yang ingin disampaikan.
Kali ini tidak ada Buna Fanya sama Alice, hanya papa dan Abangnya saja.
Xavier tersenyum tipis, lalu menyuruh putri kesayangannya untuk duduk terlebih dahulu. Reyyan yang peka, langsung memesankan minuman untuk sang adik, yang kelihatannya sangat lelah baru keluar dari kelas.
"Nggak ada susu Ultramilknya Ry, orange juice mau?" Tanya Reyyan.
Faury menganggukkan kepalanya, sekarang ia berhadapan dengan Abangnya bukan dengan suaminya, jadi ia harus bisa menerima apa yang ada saja.
Meski tidak terlalu suka dengan minuman berwarna kuning itu, Faury tetap menyesapnya, belajar menghargai niat baik orang lain, tidak salah bukan?
Gadis itu duduk diantara papa dan Abangnya, sesekali perempuan yang tengah hamil muda itu mengusap perutnya yang terlihat masih rata. Akhir-akhir ini, ia jadi mudah kecapekan.
"Nggak terasanya, bentar lagi abang punya ponakan." Kekeh Reyyan, sembari menggantikan tangan Faury yang tengah mengusap perutnya.
"Belum keliatan, kapan sih besarnya?"
"Masih lama atuh, bang."
Faury tersenyum singkat, lalu tatapannya jatuh pada sang papa yang tengah menundukkan kepalanya. Gadis itu mengerutkan keningnya heran, melihat wajah ditekuk Xavier.
"Pa," panggil Faury.
Xavier sedikit tersentak, lalu menolehkan kepalanya pada sang anak.
"Ha- iya kenapa, sayang? Gimana kabar calon cucu papa?"
Faury mengangguk, "baik pa. Cuma akhir-akhir ini Aury mageran, mudah cape juga." Keluh Faury.
"Sabar ya sayang, namanya juga lagi hamil." Sahut Xavier mengusap kepala putrinya.
"Iya, pa."
"Azheff nggak nyuruh kamu ngerjain, pekerjaan rumahkan?" Tanya Reyyan memicingkan sebelah matanya, curiga.
"Nggak lah bang, malahan mas Azheff baik banget sama Aury. Nggak boleh ini, nggak boleh itu, pokoknya over protective banget deh, kadang sebal juga jadinya."
Reyyan menghela nafasnya lega, setidaknya Faury sudah jatuh ditangan orang yang tepat. Ia tidak perlu khawatir lagi, kalau ada yang menyakiti adik semata wayangnya.
"Kamu ada mau sesuatu, Ry? Mumpung abang lagi disini, mana tau ponakan abang ngidam gitu?"
Faury berfikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya singkat. Entah mengapa kalau pak Azheff yang nanya seperti itu, pasti ada saja kemauan aneh-aneh yang keluar dari bibir Faury. Mungkin karena bapaknya kali ya?
"Gimana kuliahnya tadi? Capek, hm?" Tanya Xavier.
"Cape banget pa, banyak tugasnya. Tau gini mending, Aury nggak usah kuliah aja dari dulu." Jawab Faury setengah becanda.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAS DOSEN [END]
RomansaWarning⚠️Bucin Area! "Mas," "Iya kenapa, hm?" Aduh, seketika jantung Faury berdegup kencang hanya karena mendengar kata, 'hm'. "Kenapa, sayang?" Ulang pria itu lagi. Kiuwpiuwpiww... Aghiera Faury Ananta, gadis yang kerap disapa Faury itu merupaka...
![MAS DOSEN [END]](https://img.wattpad.com/cover/299007129-64-k410885.jpg)