Setelah kejadian hari itu, Faury lebih banyak murung, tidak ada lagi wajah ceria seperti biasa. Mendadak saja gadis yang tidak bisa diam itu, jadi kalem.
Sehari-hari kerjaan Faury, hanya tidur dikamar. Tidak mempedulikan kuliah, dan bahkan kandungannya juga. Sepahit apa sih, kenyataan yang tengah dilalui perempuan yang belum genap dua puluh tahun itu?
Bukan hanya Faury, masalah itu juga berdampak pada pak Azheff. Sudah satu Minggu, laki-laki itu tidak masuk kantor dan kampus, lebih memilih menemani sang istri dirumah.
Meskipun kewalahan sendiri mengahadapi sifat Faury akhir-akhir ini, namun pak Azheff sama sekali tidak pernah mengeluh. Ia mengambil alih semua pekerjaan rumah, tidak membiarkan Faury melakukan hal sekecil apapun yang akan membuatnya melelahkan.
Seperti sekarang ia sudah selesai memasak bubur untuk istrinya, tidak peduli Faury mau makan atau tidak, yang jelas nanti dia bakal tetap maksa.
"Sayang, yuk makan dulu, mas yang suapin."
Faury menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Harus pak Azheff akui kalau istrinya benar-benar keras kepala.
Laki-laki itu tersenyum tenang, lalu mengambil posisi duduk disamping Faury yang tengah berbaring diatas kasur, dengan tatapan nanar memandangi langit-langit kamar.
"Kamu harus makan Ayy, mas nggak mau kalau kamu sampai sakit." Ujar pak Azheff, mengusap pelan rambut gadis itu.
Sama sekali tidak ada pergerakan dari Faury, seperti patung yang bernyawa. Badannya terlihat lebih kurusan dari sebelumnya, kedua matanya sembab dan yang paling pak Azheff tidak suka adalah sifatnya yang berubah jadi pendiam.
"Ay,"
"Aku nggak mau mas, jangan maksa!" Sela Faury ngegas.
Pak Azheff menghela nafasnya sabar. Demi apapun, pak Azheff lebih rela dibentak-bentak, dari pada melihat Faury yang sama sekali tidak mau makan.
"Anak kita kan butuh asupan, Ay. Kamu mau dia kelaparan, hm?" Bujuk pak Azheff selembut mungkin.
"Kalau aku bilang nggak mau, ya nggak mau!"
"Yaudah, kamu istirahat aja."
Pak Azheff tersenyum pasrah, lalu mengambil ponselnya berusaha menghubungi seseorang. Menjauh sedikit dari Faury, laki-laki itu memilih ke balkon kamar.
"Hallo ma," sapa pak Azheff pada seseorang diseberang sana.
"Apa? Masih pagi juga. Jangan sok gabut deh, jagain istri kamu yang bener!"
"Ma, Ghean mau minta tolong." Sarkas laki-laki itu cepat.
"Ngapain? Mama lagi manjain papa kamu!"
Berkali-kali sang anaknya beristighfar dalam hati, ck anggap saja sebuah pengorbanan buat istri.
"Ghean serius!"
"Mama juga!"
"Ma, plisss."
"Iya iya, kenapa?"
"Okay, jadi gini udah seminggu Faury macet makannya. Mama bisa ban-"
"APA? SEMINGGU? DAN KAMU NGASIH TAUNYA BARU SEKARANG? KALAU MANTU SAMA CUCU MAMA KENAPA-NAPA GIMANA, GHEAN?!"
Refleks pak Azheff mengusap telinganya yang terasa berdengung. Ia menjauhkan benda pipih itu dari indra pendengerannya, lalu mengusapnya kasar.
"Jangan teriak ma. Nanti Aury denger, kasian lagi istirahat."
KAMU SEDANG MEMBACA
MAS DOSEN [END]
RomanceWarning⚠️Bucin Area! "Mas," "Iya kenapa, hm?" Aduh, seketika jantung Faury berdegup kencang hanya karena mendengar kata, 'hm'. "Kenapa, sayang?" Ulang pria itu lagi. Kiuwpiuwpiww... Aghiera Faury Ananta, gadis yang kerap disapa Faury itu merupaka...
![MAS DOSEN [END]](https://img.wattpad.com/cover/299007129-64-k410885.jpg)