Plak!
Xavier melempar selembar surat itu tepat didepan muka istrinya. Ia menatap nyalang kedua perempuan Iblis yang tengah berlutut dibawah kakinya.
Latar tempat kejadiannya, masih dikediaman keluarga pak Azheff dan Faury, disana juga masih ada Diara.
Pasalnya, setelah Diara mengusir Fanya dan Alice keluar dari rumah anaknya, tiba-tiba saja Xavier dan Reyyan datang dengan raut wajah yang penuh dengan emosi kentara.
"M-maksud papa apa?"
Bukannya menjawab, Xavier malah menyentak kasar tangan istrinya, tanpa rasa iba sedikitpun wanita itu dibiarkannya tersungkur dilantai.
"Pa," panggil Faury merasa kasian pada Fanya, meski bagaimanapun tetap saja wanita itu yang selama ini membesarkannya.
"Diam Aury! Mereka memang perlu dikasih pelajaran." Tegas Xavier.
Pak Azheff memberikan isyarat pada sang istri, agar tidak ikut campur dulu urusan orang tua angkatnya.
Sedangkan Diara hanya mengedikkan bahunya acuh, memilih menikmati secangkir kopi yang sengaja dibutnya tadi.
"Papa kenapa sih? Habis dihasut Aury, ya? Kejam banget, Buna itu istri papa!" Sahut Alice menatap mereka semua yang berada disana, dengan pandangan tak suka.
"Kalau nggak disuruh ngomong, jangan ngomong Alice! Nggak perlu, tau nggak?!" Bentak Reyyan.
"K-kamu nyalahin aku?" Wanita yang tengah hamil besar itu mengusap perutnya sebentar, lalu ia melirik sok imut kearah Reyyan.
"Jangan mulai! Aku rasa kamu nggak lupa perjanjian kita, cuma sampai anak itu lahir kan?"
Faury benar-benar tidak mengerti sebenarnya ada apa dengan keluarga angkatnya. Mulutnya sudah mangap ingin bertanya, namun dengan cepat Diara malah menyuapkan sepotong buah naga kedalam mulut mantunya.
"Makan dulu, sayang. Jangan ikut campur urusan mereka, kita jadi penonton aja." Bisik Diara lembut.
"CEPAT TANDA TANGAN!" Hardik Xavier tak sabaran.
Fanya menggelengkan kepalanya dengan keras. Kali ini Xavier memaksanya, laki-laki tegap itu melemparkan sebuah ballpoint kearah calon mantan istrinya.
"Buna nggak mau pa! Salah Buna dimana? Hiks, Reyyan bantuin Buna sayang, papa kamu kenapa?" Histeris Fanya sembari menjangkau-jangkau tangan putra semata wayangnya.
Reyyan malah menghindar, sebenarnya dia sayang sama Bunanya, hanya saja untuk kali ini Reyyan benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.
"Maaf Buna, Reyyan nggak bisa."
Fanya semakin histeris, "hiks, Aury bantuin Buna sayang. Ngomong baik-baik sama papa kamu. Hiks, maafin Buna kalau ada salah."
Faury terkejut melihat Bunanya seakan-akan ingin memeluk dirinya yang tengah duduk diatas sofa, namun dengan cepat malah dihalangi oleh Diara.
"Kamu nggak ada hak buat nyentuh mantu saya!"
"Dia juga anak saya, hiks!"
"Anak adopsi yang sudah kamu buang, kalau kamu lupa!" Koreksi Diara jengkel sendiri.
"Ka-kamu berubah Ra! Dulu kita sahabat." Fanya mengemis-ngemis didepan Diara dan Faury.
"Setelah kenal siapa kamu yang sesungguhnya, saya merasa mantu saya jauh lebih penting, dari pada persahabatan kita jaman kuliah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
MAS DOSEN [END]
RomansWarning⚠️Bucin Area! "Mas," "Iya kenapa, hm?" Aduh, seketika jantung Faury berdegup kencang hanya karena mendengar kata, 'hm'. "Kenapa, sayang?" Ulang pria itu lagi. Kiuwpiuwpiww... Aghiera Faury Ananta, gadis yang kerap disapa Faury itu merupaka...
![MAS DOSEN [END]](https://img.wattpad.com/cover/299007129-64-k410885.jpg)